Sabtu, 15 Juni 2013

Virus Cinta

Kalau berbicara cinta memang gak pernah habis pembahasannya, baik itu soal proses jatuh cinta itu sendiri yang katanya indah (aku akui indah kok, hehe), maupun setelah mengalami patah hati yang katanya sakit bannngggeetttt (itu betol juga, haha) lalu datanglah situasi yang bernama “galau” dan sering jadi trending topic di kalangan remaja (Alhamdulillah aku sering galau, jadi masih termasuk remaja). Ah, kalau berbicara tentang cinta kayaknya gak perlu lagi lah ya untuk sekarang, karena kayaknya anak sekolah dasar sekarang aja uda paham soal cinta, bahkan bisa lebih paham ketimbang mahasiswa sekalipun. Sangat berbeda waktu aku masih SD yang masih makan disuapin, hehe. Lagipula cinta itu gak perlu kita cari tahu tentang definisinya, atau tentang tips mendapat cinta si doi, atau hal-hal lain tentang cinta yang menjurus pada teori belaka. Kalau kita masih berkutat sama teori cinta, kita hampir dipastikan akan berstatus jomblo dalam waktu lama (gak mau sebut selamanya, karena kan jodoh tiap-tiap orang itu ada). Cinta itu berbicara soal praktek, karena cinta pada dasarnya cukup diucapkan sekali namun ditunjukkan berjuta kali. Seseorang bisa berubah 180 derajat hanya karena cinta, nih contoh ya, pertama dia update status FB atau nge-twit yang intinya cinta itu indah dan segalanya, bisa dipastikan itu adalah saat dimana dia jatuh cinta, ehhhh selang beberapa bulan dia update status FB atau nge-twit lagi yang intinya cinta itu buat capek aja, bisa dipastikan dia ada masalah sama pacarnya, lalu selang beberapa bulan lagi muncul lagi status atau twit dia yang intinya cinta itu bulshit, ohhh bisa dipastikan dia uda putus sama pacarnya, dan tahap terakhir dari proses ini ialah dinonaktifkannya akun FB atau Twitter-nya, nah di level ini sangat perlu bimbingan orang tua untuk menjauhi benda tajam dan beracun, khususnya bagi ababil. Sekarang sebagian besar kalangan pasti senang kalau membahas soal cinta, dari kalangan pelajar aja tinggal tingkat taman kanak-kanak yang belum terkena virus pink ini, sedang yang lainnya ya sudah terkontaminasi, sekarang boy/girlband di Indonesia aja yang anggotanya masih berstatus sebagai pelajar sekolah dasar membawakan lagu cinta, fans mereka juga anak-anak SD pada jerit-jerit gitu ala ababil, gak kayak aku sekolah SD deh pokoknya, kalau aku dulu masih surat-suratan aja sudah terasa takut, sekarang BBM sudah jadi hal biasa, kode “ping” selalu menghiasi hari-hari mereka. Sebenarnya khawatir juga kalau hal ini terus berkembang, takutnya lagu “Balonku ada lima” diganti dengan “Pacarku ada lima”, liriknya gini:
 
Pacarku ada lima, rupa-rupa namanya,
Jono, Tomi, Si Ucup, Abang Yoda, dan Alu,
Putus sama si alu, wao.... Hatiku sangat galau,
Pacarku tinggal empat, ku pegang erat-erat.
 
Nah tu kalau sampai lirik “Balonku ada lima” diganti, belum lagi lagu-lagu lain kalau sampai diganti yang gak mungkin cukup dibahas di tulisan ini. Ya kita cukup mendoakan sajalah semoga para ababil gak makin merajalela dan tetap fokus pada sekolah mereka, tujuannya ya agar bangsa ini akan jadi bangsa maju di masa depan, bukan menjadi bangsa ababil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar