“Mau
kemana kita?”, itulah yang aku tanyakan padanya. Ia membawa ku ke jalan yang
berjajaran bunga di sepanjang jalannya, pohon-pohon rindang berselang-seling
dengan daun hijau nan lebat seakan melindungi kami dari terik mentari. Buah-buahnya
pun dengan mudah diambil dari tangkainya, hijau dan menyegarkan. Ya, mungkin
itulah tempat paling sempurna yang pernah ku datangi, ya, seperti surga. Ingat
ku pun menyeruak menuju tempat yang dulu pernah ku kunjungi, indah namun
ternyata jalan itu berduri yang membuat telapak kaki ini terluka. Sempat ku
hanya duduk dan diam bersama matahari di siang hari dan rembulan di malam
harinya. Sampai aku bertemu dengannya dan membawa ku kesini. Kami masih
berjalan, tampak ada gerombolan kelinci putih berlarian di samping kami, lucu,
iya mereka lucu. Terlihat di ufuk barat sang mentari mulai menunjukkan
tanda-tanda bahwa ia ingin beristirahat, ya, sudah petang.
Ia
mengajakku masuk ke sebuah gua, gua yang gelap dan berbanding terbalik dengan
jalan yang kami lewati tadi. Aku tak tahu gua ini menuju kemana, aku takut
terluka lagi, lalu aku hanya duduk diam dan bingung harus bagaimana. Dia
terlihat menunggu ku di pintu masuk gua itu. Tiba-tiba ada seorang nenek tua,
mungkin ia yang tinggal di dekat situ. Tampak ia menggenggam dedaunan di
tangannya, mungkin itu untuk makan malamnya bersama keluarganya. Nenek itu
berhenti di depanku, menatapku dengan tajam, “kejarlah cintamu nak, buatlah kamu selalu berada di sampingnya,
buatlah ia sadar bahwa kamu yang terbaik, bersabarlah, karna jodoh adalah
rahasia dan kado terindah hasil dari sebuah kesabaran”. Lantas ku
terhentak, ku melirik wanita pilihan ku tadi, aku genggam tangannya dan
berkata, “aku disini untukmu, dan aku
terluka juga untukmu, mari kita sambung perjalanan kita, sampai kita menemukan
istana kita”. Kami masuk ke gua itu dan aku siap atas apapun yang bisa
terjadi, karena inilah cinta, ya aku cinta kamu, MY BAWEL!!!! I DO!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar