Siang itu matahari semakin menunjukkan
keperkasaannya, namun ku masih saja berjalan pelan di tengan teriknya sang
mentari, kakiku terasa begitu berat siang itu, aku kehilangan sesuatu yang
biasa ku sebut dengan nama "semangat". Mataku terbuka lebar tapi sebenarnya
pandanganku kosong waktu itu, suara lalu lalang kendaraan ala kota besar pun
tak kupedulikan. Langkahku terhenti di depan toko yang bertuliskan
"Disewakan" di pintunya. Kusandarkan badanku tepat di pintu toko itu,
setiap derap langkah kaki orang-orang metropolitan yang melintas di depanku
bagaikan musik yang mengantarku terbang dalam khayalku.
Namun aku tersadar dalam khayalku, mataku tertuju
pada seorang anak perempuan kecil, ku perkirakan umurnya masih 8 tahun. Tangan
kecilnya menggenggam gantungan yang di bawahnya ada beberapa kacang dan telur
rebus, langsung saja ku tebak itu adalah barang dagangannya. tubuh kecil dan
kurusnya tidak sedikitpun terlihat lemah di tengah teriknya sang mentari
meskipun keringat yang terlihat di wajahnya tak bisa berbohong bahwa ia pasti
letih. Namun senyum manis khas anak-anak tergambar jelas di bibirnya. Ku lihat
jam tangan yang selalu ku pakai kemanapun, ternyata seharusnya itu merupakan
waktu sekolah untuk anak-anak seumurnya, tapi dia?? Ya, dia malah berada di
hiruk-pikuk khas ibukota disaat teman-teman sebayanya sedang meniti cita-cita
mereka, tubuh kecilnya berada di tengah-tengah orang yang lalu lalang tanpa
sedikitpun menghiraukannya. Yah kota besar, begitulah...
Mungkin ia tahu ku bergumam tentangnya, dia
berlari kecil untuk menghampiriku yang 180 derajat berbeda dengannya, aku yang
masih lesu ini pun mencoba menerima kedatangannya dengan hangat. Kata pertama
yang ku ingat ialah "Mau beli kacang bang? Atau mau telur rebus aja?"
Ku balas dengan senyuman lalu ku balik bertanya, "Adek gak sekolah?"
Dengan sangat polosnya ia menjawab, " Gak bang, gak ada biaya, gak mau
nyusahin bapak sama mamak, makan aja susah bang".
Sentak saja aku seperti tersengat listrik, heranku
mulai merasuki pikiran, bagaimana bisa anak sekecil ini bisa berfikir begitu
dan mau mengorbankan dirinya bahkan cita-citanya. Dia melakukan itu sungguh
tulus untuk orang tuanya. Sedangkan aku? Aku terlalu gampang putus asa, padahal
aku hanya tinggal bersekolah tanpa memikirkan dari mana ku mencari biayanya.
Sekejap aku bangun dari dudukku, merapikan pakaian lalu mengeluarkan uang
seadanya sambil mengambil beberapa plastik kacang, ya Rupiah yang kuberikan
memang tak seberapa, namun minimal ku berharap itu bisa menghilangkan dahaganya
dalam melawan sang mentari. Tak lupa ku lantunkan do'a dalam hati agar ia
selalu di berikan rezeki dan keselamatan oleh-Nya.
Sambil mengucapkan pamit, aku membalikkan badan
dan berlari kecil menuju kampusku. Dalam benakku, aku hanya teringat bayangan
orangtuaku di kampung, aku tak boleh menyia-nyiakan perjuangan mereka, bayangan
diri mereka lah yang selalu bisa membuat ku berdiri tegak di atas duri, dan
bayangan indahnya senyum mereka yang mampu menahan air mata yang hanya akan
menghentikan langkahku. Ku terus berlari kecil menuju kampus sambil berjanji
dalam hati untuk membalas ini semua lewat kesuksesanku kelak.
Mama.... Ayah... I miss you both :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar