Sabtu, 15 Juni 2013

Jiwa Malaikat dalam Sosok Pedagang Kecil

Siang itu matahari semakin menunjukkan keperkasaannya, namun ku masih saja berjalan pelan di tengan teriknya sang mentari, kakiku terasa begitu berat siang itu, aku kehilangan sesuatu yang biasa ku sebut dengan nama "semangat". Mataku terbuka lebar tapi sebenarnya pandanganku kosong waktu itu, suara lalu lalang kendaraan ala kota besar pun tak kupedulikan. Langkahku terhenti di depan toko yang bertuliskan "Disewakan" di pintunya. Kusandarkan badanku tepat di pintu toko itu, setiap derap langkah kaki orang-orang metropolitan yang melintas di depanku bagaikan musik yang mengantarku terbang dalam khayalku.
Namun aku tersadar dalam khayalku, mataku tertuju pada seorang anak perempuan kecil, ku perkirakan umurnya masih 8 tahun. Tangan kecilnya menggenggam gantungan yang di bawahnya ada beberapa kacang dan telur rebus, langsung saja ku tebak itu adalah barang dagangannya. tubuh kecil dan kurusnya tidak sedikitpun terlihat lemah di tengah teriknya sang mentari meskipun keringat yang terlihat di wajahnya tak bisa berbohong bahwa ia pasti letih. Namun senyum manis khas anak-anak tergambar jelas di bibirnya. Ku lihat jam tangan yang selalu ku pakai kemanapun, ternyata seharusnya itu merupakan waktu sekolah untuk anak-anak seumurnya, tapi dia?? Ya, dia malah berada di hiruk-pikuk khas ibukota disaat teman-teman sebayanya sedang meniti cita-cita mereka, tubuh kecilnya berada di tengah-tengah orang yang lalu lalang tanpa sedikitpun menghiraukannya. Yah kota besar, begitulah...
Mungkin ia tahu ku bergumam tentangnya, dia berlari kecil untuk menghampiriku yang 180 derajat berbeda dengannya, aku yang masih lesu ini pun mencoba menerima kedatangannya dengan hangat. Kata pertama yang ku ingat ialah "Mau beli kacang bang? Atau mau telur rebus aja?" Ku balas dengan senyuman lalu ku balik bertanya, "Adek gak sekolah?" Dengan sangat polosnya ia menjawab, " Gak bang, gak ada biaya, gak mau nyusahin bapak sama mamak, makan aja susah bang".
Sentak saja aku seperti tersengat listrik, heranku mulai merasuki pikiran, bagaimana bisa anak sekecil ini bisa berfikir begitu dan mau mengorbankan dirinya bahkan cita-citanya. Dia melakukan itu sungguh tulus untuk orang tuanya. Sedangkan aku? Aku terlalu gampang putus asa, padahal aku hanya tinggal bersekolah tanpa memikirkan dari mana ku mencari biayanya. Sekejap aku bangun dari dudukku, merapikan pakaian lalu mengeluarkan uang seadanya sambil mengambil beberapa plastik kacang, ya Rupiah yang kuberikan memang tak seberapa, namun minimal ku berharap itu bisa menghilangkan dahaganya dalam melawan sang mentari. Tak lupa ku lantunkan do'a dalam hati agar ia selalu di berikan rezeki dan keselamatan oleh-Nya.
Sambil mengucapkan pamit, aku membalikkan badan dan berlari kecil menuju kampusku. Dalam benakku, aku hanya teringat bayangan orangtuaku di kampung, aku tak boleh menyia-nyiakan perjuangan mereka, bayangan diri mereka lah yang selalu bisa membuat ku berdiri tegak di atas duri, dan bayangan indahnya senyum mereka yang mampu menahan air mata yang hanya akan menghentikan langkahku. Ku terus berlari kecil menuju kampus sambil berjanji dalam hati untuk membalas ini semua lewat kesuksesanku kelak.
Mama.... Ayah... I miss you both :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar