Kamis, 20 Juni 2013

Perjuangan, Persahabatan, dan Lembar Baru



Dalam hidup, pengalaman akan selalu sangat berguna agar kita dapat belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman juga diperlukan dalam proses kita untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidang tertentu, termasuk untuk menjadi guru. Untuk menjadi guru sesungguhnya, mahasiswa yang mengambil studi khusus untuk menjadi guru pasti akan melewati suatu masa yang disebut PPL atau Program Pengalaman Lapangan.  Dalam masa itu, seorang mahasiswa yang tadinya selalu menjadi “Si Pendengar” dalam proses pembelajaran di kampus. Tapi kali ini kami harus menjadi “Si Penceramah” di depan anak-anak murid, baik itu SD, SMP, ataupun SMA. 

Tapi tulisan ini gak membahas tentang istilah PPL sampai keakar-akarnya kok, tulisan ini bercerita tentang pengalaman saya selama PPL. PPL, iya PPL, mungkin bagi saya PPL itu lebih pantas memiliki kepanjangan Perjuangan, Persahabatan, dan Lembar Baru. Ya, soalnya tiga hal ini adalah hal yang saya rasakan selama PPL. Namun, dibalik tiga hal itu tetap ada “pengalaman” sebagai hal utamanya. 

Baiklah, kita membahas Perjuangan terlebih dahulu. Selama PPL jelas sangat banyak perjuangan yang tercipta, baik itu perjuangan lahir maupun batin, baik itu raga maupun perasaan dan pikiran. Mungkin hari dimana saya tulis cerita ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu waktu tiga bulan lalu. Hari yang saya sendiri gak tau bagaimana kejadiannya, akan cerah ataukah badai. Memang sih sekarang cuaca lagi badai, tapi untuk hasil kinerja selama PPL cerah kok. Hari ini sudah terlewati selama 100 hari itu. Ya, kami PPL selama lebih kurang 100 hari. Bicara perjuangan, tentunya sangat banyak perjuangan, yang tadinya gak tau apa itu Prota, Promes, Minggu Efektif, tapi mau gak mau harus buat dan belajar membuatnya, mencari contoh lalu copas itu termasuk perjuangan juga lho ya. Belum lagi perjuangan capeknya, yang dulunya jam 9 pagi baru terkumpul nyawa didalam tubuh, sekarang mau gak mau jam 7 pagi harus sudah menyusuri jalan ibukota provinsi ini. Pokoknya kalau bicara perjuangan dari A-Z, saya bisa langsung buat satu novel. 

Yang kedua Persahabatan, dalam hidup kita memang harus dan wajib untuk selalu mengenal orang-orang baru dan belajar dari mereka. Dan selama PPL, saya bertemulah dengan 14 orang baru, oh gak, 13 orang baru, 1 orang sih sudah kenal dari awal kuliah. Baru kenal dan tiap hari bertemu, kecuali hari minggu dan libur. Tumbuhlah rasa persahabatan dan seperti keluarga. Gak mau berpisah, namun masing-masing harus kembali ke jurusan masing-masing untuk menyelesaikan studinya. Tapi, setahu saya persahabatan itu gak mengenal kata akhir, jadi persahabatan ini akan terjalin selamanya, ya selamanya jika semua saling menjaga. Menjaga perasaan dengan mengerti setiap orang itu berbeda, kita gak mungkin membuat sahabat kita seperti kita, tapi kita bisa membuat pikiran kita dapat melihat suatu aspek lebih luas. Ya, saya harap saya masih bisa bercerita pada anak saya kelak nanti tentang bagaimana hebatnya jalinan persahabatan yang pernah terjalin saat saya PPL.

Selanjutnya kita membahas soal “Lembar Baru”. Apa sih lembar baru? Dalam hidup kita memang memiliki lembaran-lembaran cerita tentang masa lalu kita, ada yang hitam, putih, dan penuh warna. Ketika awal PPL, saya masih shock dengan atmosfer sekolah yang sangat asing bagi saya, pakai celana kain setiap hari yang sangat jarang saya lakukan selama kuliah, bangun pagi-pagi dan langsung menempuh perjalanan 20 menit. Maka dari itulah saya membuka lembar baru yang saya sebut “PPL”. Disana telah tercoret banyak kisah dengan banyak warna, ada hitam, putih, biru, kuning, dan lain-lain, serta merah muda. Yang jelas selalu ada lembaran khusus yang terbingkai manis untuk kisah selama PPL ini, dengan nama-nama sahabat saya di bawahnya. Semoga setelah kita lewati ini, kita gak saling melupakan, gak saling memusuhi, gak saling membenci atau bahkan membangun tembok pembatas diantara kita. Sudah saatnya kita berlapang dada dan berjiwa besar untuk saling memaafkan dan menjalin silahturahmi selamanya, iya selamanya...

Jadi, itulah singkat cerita tentang PPL, kita gak perlu terlalu serius untuk membahas satu istilah lalu mencarinya di buku atau Wikipedia, kita cukup merasakan apa yang kita rasakan lalu tulis dalam sebuah cerita, semoga menarik dan menjadi pembelajaran untuk kita semua. Bye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar