Dalam
hidup, pengalaman akan selalu sangat berguna agar kita dapat belajar dan
menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman juga diperlukan
dalam proses kita untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidang tertentu,
termasuk untuk menjadi guru. Untuk menjadi guru sesungguhnya, mahasiswa yang
mengambil studi khusus untuk menjadi guru pasti akan melewati suatu masa yang
disebut PPL atau Program Pengalaman Lapangan.
Dalam masa itu, seorang mahasiswa yang tadinya selalu menjadi “Si
Pendengar” dalam proses pembelajaran di kampus. Tapi kali ini kami harus
menjadi “Si Penceramah” di depan anak-anak murid, baik itu SD, SMP, ataupun
SMA.
Tapi
tulisan ini gak membahas tentang istilah PPL sampai keakar-akarnya kok, tulisan
ini bercerita tentang pengalaman saya selama PPL. PPL, iya PPL, mungkin bagi
saya PPL itu lebih pantas memiliki kepanjangan Perjuangan, Persahabatan, dan
Lembar Baru. Ya, soalnya tiga hal ini adalah hal yang saya rasakan selama PPL.
Namun, dibalik tiga hal itu tetap ada “pengalaman” sebagai hal utamanya.
Baiklah,
kita membahas Perjuangan terlebih dahulu. Selama PPL jelas sangat banyak
perjuangan yang tercipta, baik itu perjuangan lahir maupun batin, baik itu raga
maupun perasaan dan pikiran. Mungkin hari dimana saya tulis cerita ini adalah
hari yang saya tunggu-tunggu waktu tiga bulan lalu. Hari yang saya sendiri gak
tau bagaimana kejadiannya, akan cerah ataukah badai. Memang sih sekarang cuaca
lagi badai, tapi untuk hasil kinerja selama PPL cerah kok. Hari ini sudah
terlewati selama 100 hari itu. Ya, kami PPL selama lebih kurang 100 hari.
Bicara perjuangan, tentunya sangat banyak perjuangan, yang tadinya gak tau apa
itu Prota, Promes, Minggu Efektif, tapi mau gak mau harus buat dan belajar membuatnya,
mencari contoh lalu copas itu termasuk perjuangan juga lho ya. Belum lagi
perjuangan capeknya, yang dulunya jam 9 pagi baru terkumpul nyawa didalam
tubuh, sekarang mau gak mau jam 7 pagi harus sudah menyusuri jalan ibukota
provinsi ini. Pokoknya kalau bicara perjuangan dari A-Z, saya bisa langsung
buat satu novel.
Yang
kedua Persahabatan, dalam hidup kita memang harus dan wajib untuk selalu
mengenal orang-orang baru dan belajar dari mereka. Dan selama PPL, saya
bertemulah dengan 14 orang baru, oh gak, 13 orang baru, 1 orang sih sudah kenal
dari awal kuliah. Baru kenal dan tiap hari bertemu, kecuali hari minggu dan
libur. Tumbuhlah rasa persahabatan dan seperti keluarga. Gak mau berpisah,
namun masing-masing harus kembali ke jurusan masing-masing untuk menyelesaikan
studinya. Tapi, setahu saya persahabatan itu gak mengenal kata akhir, jadi
persahabatan ini akan terjalin selamanya, ya selamanya jika semua saling
menjaga. Menjaga perasaan dengan mengerti setiap orang itu berbeda, kita gak
mungkin membuat sahabat kita seperti kita, tapi kita bisa membuat pikiran kita
dapat melihat suatu aspek lebih luas. Ya, saya harap saya masih bisa bercerita
pada anak saya kelak nanti tentang bagaimana hebatnya jalinan persahabatan yang
pernah terjalin saat saya PPL.
Selanjutnya
kita membahas soal “Lembar Baru”. Apa sih lembar baru? Dalam hidup kita memang
memiliki lembaran-lembaran cerita tentang masa lalu kita, ada yang hitam,
putih, dan penuh warna. Ketika awal PPL, saya masih shock dengan atmosfer
sekolah yang sangat asing bagi saya, pakai celana kain setiap hari yang sangat
jarang saya lakukan selama kuliah, bangun pagi-pagi dan langsung menempuh
perjalanan 20 menit. Maka dari itulah saya membuka lembar baru yang saya sebut “PPL”.
Disana telah tercoret banyak kisah dengan banyak warna, ada hitam, putih, biru,
kuning, dan lain-lain, serta merah muda. Yang jelas selalu ada lembaran khusus
yang terbingkai manis untuk kisah selama PPL ini, dengan nama-nama sahabat saya
di bawahnya. Semoga setelah kita lewati ini, kita gak saling melupakan, gak
saling memusuhi, gak saling membenci atau bahkan membangun tembok pembatas
diantara kita. Sudah saatnya kita berlapang dada dan berjiwa besar untuk saling
memaafkan dan menjalin silahturahmi selamanya, iya selamanya...
Jadi,
itulah singkat cerita tentang PPL, kita gak perlu terlalu serius untuk membahas
satu istilah lalu mencarinya di buku atau Wikipedia, kita cukup merasakan apa
yang kita rasakan lalu tulis dalam sebuah cerita, semoga menarik dan menjadi
pembelajaran untuk kita semua. Bye.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar