Senin, 05 Agustus 2013

Si Mblo - Mudik

Sebuah cerita pendek tentang teman saya yang memiliki prinsip dan keteguhan yang kuat,,,,, untuk menjadi jomblo. Namanya Jodi, mahasiswa tingkat akhir. 



"Jod.... buruan, udah jam berapa ini, entar kita kemalaman nyampenya!!!", teriak saya pagi itu.

Saya berteriak bukan tanpa alasan, hari ini kami mau mudik ke kampung halaman kami, saya harus mengingatkan Jodi kalau kami gak boleh kemalaman sampai rumah, selain lebih berbahaya jalan malam hari, kami juga ingin berbuka puasa bersama keluarga hari ini. Berhubung kami anak kost yang hemat dan perhitungan, jadi kami memutuskan untuk mudik menggunakan sepeda motor. Urusan kampus kami pun sudah selesai, maka kami memutuskan untuk langsung menggeber motor kami menuju kampung halaman tercinta.

"Lama banget sih lu, Jod. Ngapain aja di kamar mandi? Nguras air?", saya bertanya pada Jodi.

"Ah lu, gak sabaran banget, kan gua harus benar-benar siap lahir bathin luar dalam, baik mental maupun penampilan,", katanya santai.

"Ah omong lu, kayak orang bener aja, palingan lu mau tebar pesona ke cewek-cewek desa yang kita lewati selama perjalanan, ngaku aja deh," tanya saya curiga.

"Idih ogah ya, gua mah gak level gituan, kan udah gua bilang kalo gua mau cewek-cewek yang ngejar gua," katanya sok cool.

"Ah lagu lu sok bener," saya gak percaya karena seperti ini bukan pertama kali kejadian.

Setelah Jodi siap, mesin motor panas, kami mulai berangkat meninggalkan kota perantauan kami. Yup, menuju kampung halaman.

Beberapa kota telah kami lewati, kampung halaman kami jaraknya lumayan jauh, kalau naik bus membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam perjalanan.Setelah mengendarai motor selama 4 jam, lelah pun mulai menghinggapi tubuh kami. Di depan terlihat ada posko mudik yang didirikan oleh Polres setempat untuk membantu pemudik mencari informasi atau sekedar beristirahat. Kami pun memutuskan untuk beristirahat disana, lagi pula ini sudah setengah perjalanan.

Kami disambut hangat oleh satuan kepolisian di posko itu, terlihat juga ada beberapa polwan yang memang berparas manis dengan tinggi semampai. Tiba-tiba Jodi berkata sesuatu pada saya.

"Kalau gua gombalin mbak polwan itu gimana? Dia marah gak ya," tanya Jodi.

"Hemm, ya gak tau juga, lu coba aja, mana tau mau terus dekat dan jadian,", jawab saya.

"Lu tau apa tentang tipe cowok idaman polwan?", tanyanya lagi.

"Ya polwan pastinya suka cowok yang macho, jangan sampai dia tahu kalau lu masih suka nonton Larva atau baca komik Naruto atau bahkan suka nonton JKT48, dia bisa illfeel, pokoknya lu harus macho dalam segala hal,", saya memberi solusi.

"Oh gitu ya, okelah, gua coba,", katanya.

Selagi Jodi mencoba menggoda polwan tadi, saya memutuskan untuk sholat Zuhur di musholla terdekat berhubung juga sudah masuk waktunya.

Setelah selesai sholat, saya langsung kembali ke posko untuk menemui Jodi. Tapi mendadak ada keributan di posko mudik tadi. Saya yang penasaran pun langsung mendekat dan menjumpai Jodi yang dikerumuni polisi. Saya sebagai temannya langsung mendekat dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi.

"Maaf pak, ini apa yang terjadi ya dan apa salah teman saya?", tanya saya pada salah seorang polisi pria.

"Oh anda temannya? Ini teman anda dicurigai sebagai sindikat penjualan organ tubuh ilegal.", jawab polisi tadi.

"Lho kok bisa? Kami mahasiswa kok pak, mahasiswa biasa dan baik-baik", tanya saya lagi yang terheran-heran.

"Iya, dari pengakuan teman anda tadi pada rekan polisi wanita kami yang bernama Sinta bahwa ia suka nonton film 'Cannibal', dia bercerita juga bahwa dia suka setiap adegan pembelahan organ tubuh itu dan kadang mempraktekkannya juga, dari situ kami langsung menduga bahwa ia adalah termasuk sindikan penjualan organ tubuh ilegal, jangan-jangan anda temannya juga melakukan itu.", polisi tadi menjelaskan dan langsung menuduh saya.

"Eh eh eh gak pak, saya gak ikut gituan," saya menyangkal.

"Eh Jod, maksud lu apaan bilang-bilang kayak gini, lu biasa nonton Larva sama JKT48 pun, lagipula lu juga gak sanggup liat ayam disembelih, lu bilang gak tega, liat darah aja lu pingsan," saya meminta klarifikasi dari Jodi.

"Ya kan gua bilang gitu biar nampak macho, kayak lu bilang tadi,,,", jawabnya.

"Ya ampun, jadi karena itu, macho sih macho Jod, tapi gak belah-belah tubuh orang juga, aduh,,,", kata saya dengan penuh penyesalan.

"Ya gua mana tahu,,,", jawab Jodi sedih.

Akhirnya setelah diintrogasi agak lama dan diperiksa kartu identitas, kami pun dilepas. Karena terlalu lama disana, kami pun sampai di rumah kemalaman dan kondisi makanan di rumah juga tinggal sisa sedikit. Buka puasa enak gak dapat, polwan lewat, sial yang dapat. Ini semua karena Jodi yang sok-sok mau jadi cowok macho dan cool.... arrggghhh.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar