Sebuah cerita pendek tentang teman saya yang memiliki prinsip dan
keteguhan yang kuat,,,,, untuk menjadi jomblo. Namanya Jodi, mahasiswa
tingkat akhir.
"Yess GOLLLLL!!!!", saya berteriak mengekspresikan gol Chelsea yang baru tercipta.
Ya, malam itu ada pertandingan seru antara Chelsea melawan Manchester United dalam ajang liga Inggris. Jodi yang dari tadi asyik memainkan hapenya pun mulai tertarik dengan pertandingan yang saya nonton. Si Jodi tidak suka menonton sepakbola, apalagi main, ya jadi dia gak ngerti peraturan sepakbola gitu. Sayang sekali hidup dia memang.
"Apaan yang main?" Tanyanya penasaran.
"Oh ini? Chelsea lawan MU," jawabku.
"Oh itu negara baru? Indonesia kapan main?" tanyanya polos menjurus bodoh.
"Ini bukan negara, Jod. Ini klub sepakbola, mainnya di Inggris, liga Inggris, jadi tiap negara itu ada liganya", saya mencoba sabar menjelaskan.
"Oh gitu, jadi ini Inggris? Kok Inggris ada yang mirip orang Jepang? Oh mungkin naturalisasi ya," tanyanya semakin bodoh sambil menunjuk ke arah Shinji Kagawa.
"Bukan Jod, dia memang orang Jepang tapi main di Liga Inggris, ah sudahlah, lu tanyanya ngalahin interview lamar kerja di bank, banyak!!!!", saya menjawab kesal sambil memfokuskan diri menonton.
Akhirnya Jodi diam dan melanjutkan main hape. Saya tidak tahu juga apa yang dia lakukan dengan hape nya, modusin cewek kali. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Chelsea 2-1.
Keesokan harinya....
"Wah baju baru, Jod? Tumben pake jersey bola, sakit lu?", tanyaku heran.
"Gak kok, kan biar kayak orang-orang lain aja gitu, lagian gua lagi dekatin cewek nih, namanya Fani, kenalan dari BBM, katanya sih dia suka cowok pake jersey bola kayak gini.", jawabnya.
"Oh jadi karena cewek nih? Terus kenapa lu pilih jersey itu? Kan itu tim nya gak terkenal", saya menjelaskan.
"Lho emang ini klub apa? Emang klub banyak ya?' tanyanya bingung.
"Ya banyak lah, Jodi. Yang lu pake itu nama timnya Atalanta, tim liga Italia, lagian tim itu kan udah degradasi ke Serie B, gak bagus, lu bakal nampak semakin bego pake baju itu, mana itu kan baju keduanya, aduh..." saya ikutan bingung.
"Wah gua mana tau, gua suka warna putih, ya gua ambil aja ini, kirain semua klub bola itu keren, jadi gua pake baju apa donk, kasih solusi," tanyanya meminta solusi.
"Hemm jadi lu suka warna putih ya, ya udah besok lu beli aja jersey Real Madrid, keren tuh, kalo ada lu beli yang ada namanya ya, RONALDO, itu bintangnya, bro, percaya deh lu pasti keren...", saya memberi solusi.
"Wah makasih bro, lu memang sahabat gua,", Jodi menepuk pundak saya sambil tersenyum.
Saya sangat senang melihat situasi ini, secara sahabat saya yang tadinya berprinsip ingin tetap jomblo, akhirnya sekarang dia mau memulai mencari gebetan, dan lagi dia juga sudah mulai suka sepakbola, ya setidaknya kan dia sudah mulai mau pakai jersey kemana-mana. Semoga dia berhasil.
Rabu sore...
"Wah gila bro, si dia mau gua ajak ketemuan, kata dia malam ini bro, di cafe ujung jalan sana, katanya sih sambil nonton bola gitu, El Cissisico nama bolanya bro,", Jodi tampak bahagia.
"El Classico kali, jod..." kataku datar.
"Iya itu maksud gua, pasti keren nih gua pake jersey baru Real Madrid, warna putih pasti masuk banget sama kulit gua yang putih juga, gak sabaran deh," katanya masih tampak sumringah.
"Iya deh iya,,, semoga berhasil ya bro, gua doain deh dari rumah ya, gua gak nonton deh entar malam, besok pagi-pagi gua mau jumpai dosen, biasa konsul...", kataku.
"Oh oke deh, gak masalah, entar gua kabarin aja berapa skornya yak," Jodi mencoba menyemangati saya.
Malam semakin larut, saya pun harus tidur karena besok pagi-pagi mau ketemu dengan dosen, maklum mahasiswa tingkat akhir. Namun, belum lagi saya benar-benar masuk ke dalam mimpi saya, Jodi pulang sambil nangis-nangis. Kondisinya cukup memprihatinkan dengan muka memar dan baju robek, padahal itu kan baju baru.
"Oy kenapa lu?", tanyaku heran.
"Lu keterlaluan ya sebagai temen," kata Jodi.
"Lho kok gua tiba-tiba? Apa salah gua?", saya masih heran.
"Iya, lu bilang gua pake jersey ini keren, cewek pasti suka, lu bilang Real Madrid juga hebat," katanya lagi.
"Lho emang kuat kok, dibanding Atalanta yang lu pake sebelumnya," kata saya.
"Apaan? Buktinya gua jadi kayak gini, gua dikeroyok sama kumpulan orang-orang yang pake jersey warna merah-biru, entah Barcelona tadi kata mereka, si Fani juga pake jersey itu, akhirnya gua bonyok deh di Cules Cafe tadi,", sambungnya.
"Yaelah, lu juga gak bilang kalau lu mau nonton bareng fans Barcelona, dan lu juga gak bilang kalo si Fani adalah Cules Angel, itu nama fans cewek Barcelona, dan parahnya lagi lu masuk ke cafe basecamp fans mereka, ya pantesan aja lu bonyok gini," saya menerangkan.
"Yah gua mana tau Barcelona itu musuhan sama Real Madrid, dan gua juga mana tahu kalau nama "Fani Cules Angel" di kontak BBM itu untuk menjelaskan bahwa dia adalah fans Barcelona, kirain nama apaan,", Jodi mulai paham.
"Ya gitulah, tuh paham, tapi telat, udah ah, gua mau tidur,", saya mencoba menutup pembicaraan.
"Terus gua gimana? Tanggung jawab donk,", Jodi merengek.
"Bodo!", kali ini harus benar-benar berakhir.
Sebenarnya kasihan juga sih sama Jodi, secara kan dia sahabat baik saya, tapi kelakuannya itu juga sih. Kabarnya sih sejak kejadian itu Fani nge-delete Jodi dari kontak BBM-nya. Kasihan Jodi, mungkin dia lebih baik sok-sok jaim seperti biasa aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar