Rabu, 24 September 2014

Terjebak di Friendzone

"Maaf aku gak bisa, kamu udah terlalu baik sama aku, kita temenan aja ya".

Gak asing sama kalimat itu? Fix lo pelaku friendzone sejati. Atau ada yang belum tau friendzone? Bukan, yang sosial media itu friendster. Apa? Tempat bermain? Oh itu timezone. Ih apasih. Ini friendzone, situasi dimana lo dekat sama seseorang tapi gak ada ikatan yang jelas. Hemm friendzone ini bisa dikatakan juga adalah main aman, jadi lo bisa dapat perhatian, ada teman jalan, tapi lo gak ada ikatan juga gak ada tanggung jawab untuk setia, lo bebas berpindah-pindah dan pasangan friendzone lo cuma bisa bilang aku rapopo. Jadi initinya, friendzone ini adalah tersakiti dan terkhianati yang tertunda, antara  lo berdua pasti akan rasain itu, dan satu lagi akan rasain kesenangan dengan pasangan barunya. Itu hanya soal waktu dan kesempatan.

Ada beberapa alasan orang mau masuk ke dalam situasi friendzone. Pertama, salah satu atau keduanya sudah memiliki pacar, tapi pacarnya terlalu sibuk dan gak punya alasan yang tepat untuk mutusin. Maka mereka pun memutuskan friendzone-an, berharap ada keajaiban dari ibu peri mana tau tiba-tiba putus, jadi pasangan friendzone nya akan menjadi tempat pelarian yang pertama. Ini kesempatan terbaik yang gak boleh disia-siakan. Oke yang kedua, ada dua orang atau salah satu yang sahabatan tapi sebenarnya menyimpan rasa, sayangnya gak berani ungkapin, takut ditolak dan persahabatan mereka pecah, jadinya bukan hanya gak bisa jadian, tapi juga gak bisa ketemu dan sedekat dulu lagi. Ketiga, ada orang punya rasa ke seseorang, udah ungkapin, ditolak, lalu dia mutusin untuk sahabatan aja dengan modus "gak bisa jadi pacar, jadi sahabat juga bisa kan", situasi kayak gini biasanya bisa tergantung usia. Kalau beda usianya sebaya, okelah dikatakan friendzone. Tapi kalo beda usianya masih dibawah 10 tahun, namanya adek-abang zone. Kemudian usia di kisaran 10-30 tahun, ini bisa dikatakan oom zone. Berarti cewek itu udah main sama om-om. Tapi kalo usianya 40 tahun lebih, ini syekh puji zone. Bahaya ini, penjara ujung-ujungnya, waspadalah.

Jadi ingat dulu pernah ngalamin yang namanya friendzone ini. Gue pernah dekat sama cewek yang namanya Ina (bukan nama sebenarnya). Ina ini teman seangkatan gue di kampus. Awalnya gue ketemu dia pas dia lagi ngupil di tangga kampus. Gue kaget ketemu bidadari ngupil. Aura nya beuhhh luar biasa. Mukanya adem kayak keramik musholla. Suaranya beuhh, lembut banget kayak tas ibu dosen yang beli di Italia. Tiap dia lewat semua orang diam terpaku, hening, kayak lagi ikut uji nyali. Mungkin kalo dia boker pun suara eek nya jatuh juga bernada, mungkin suaranya oktaf. Oke itu menjijikkan.

Kembali di tangga kampus tadi. Kami pun kenalan terus salaman, sempat lama terpaku. Dan lalu sadar kalo tangan itu tadi kan bekas ngupil. Kampret. Sejak saat itu kami sering bareng kemana-mana. Ngantin bareng, jalan bareng, buat tugas bareng, konsul skripsi bareng, nyuri sendal mesjid juga bareng. Romantis kan kami. Iya.

Sampai akhirnya gue merasakan ada yang ganjel di hati gue. Tiap dekat Ina gue ngerasa senang. Apakah ini cinta? Berjuta rasanya. Hati pun terasa cenat cenut, susah tidur, susah eek. Ah semua macam ada. Gue cuma bisa save foto-foto Ina dalam satu folder di laptop gue. Atau gue tulis puisi-puisi tentang Ina.

Tapi gue gak berani ungkapin, takut Ina ngejauh dan gue gak bisa lihat tingkah imutnya lagi. Seperti berada di persimpangan, gak tahu harus kemana. Cuma ditemani anak-anak jalanan yang mukanya mirip Tegar semua. Akhirnya gue mutusin untuk memendam rasa ini dalam-dalam, yang penting bisa sama Ina kayak gini terus.

Dan setelah beberapa bulan dekat, akhirnya kami wisuda bareng juga. Kami sudah menyelesaikan semua kewajiban kami di kampus. Bahagia? Tentu. Tentu bahagia bisa wisuda bareng orang yang kamu sayang.

Di suatu hari Ina ngajakin gue ngopi kayak biasa, katanya sih mau lihat-lihat lowongan pekerjaan. Ya kami pergi berdua, biasa aja sih, biasanya juga sering kayak gini kan.

"Liat contoh CV kamu donk", Ina tiba-tiba memecah konsentrasi gue yang sedang mencari film terbaru.

"Oh iya boleh, bentar ya. Nih. Liat aja", kata gue sambil memberikan laptop.

"Oke bentar ya".

"Sip, aku ke toilet bentar ya", gue langsung bergegas ke toilet karena tiba-tiba kebelet.

 Beberapa saat di toilet, keluar dengan perasaan lega. Tapi wajah Ina sepertinya berubah, seperti langit mendung dengan disertai petir-petir. Apa mungkin ini karena kue bakwan yang dia makan, mungkin bakwan tadi kebanyakan boraks kayak di liputan investigasi TV.

"Kamu kenapa?", gue membuka pembicaraan.

"Kamu jahat, pengecut, pecundang!", jawabnya dengan nada tinggi falseto.

"Loh apa salah aku? Tadi baik-baik aja, kok tiba-tiba gini?"

"Kamu gak tahu satu hal?"

"Satu hal apa?"

"Kamu pernah rasa menyimpan cinta dalam-dalam?"

"Pernah, kenapa?"

"Sakit?"

"Lumayan"

"Terus kalo kamu tahu orang yang kamu sayang itu ternyata sayang kamu juga gimana?"

"Wah bahagia donk."

"Tapi kamu telat, Rif. Aku udah punya pacar, jadian minggu lalu. Dan satu hal yang kamu harus tahu adalah aku sayang sama kamu tapi kamu gak ada respon apalagi nyatain hal yang sama. Harusnya kamu peka sebagai cowok."

"Tapi Na...."

"Tapi apa? Semua terlambat sudah. Aku gak mungkin lagi putusin pacar aku. Dan kamu? Aku telat tahu kalau kamu punya rasa yang sama kayak aku".

"Maaf Na, tapi aku cuma gak mau kehilangan kamu, aku gak mau kamu menjauh karena aku ungkapin perasaan aku".

"Tapi sekarang? Kamu lihat kan? Kita gak dapat apa-apa".

"Iya...."

"Oke kita ambil hikmahnya aja, mungkin ini cara Tuhan untuk berikan yang terbaik untuk kita."

"Semoga kamu dapat yang terbaik, Na. Dan jika aku orang itu, kita pasti bisa bersama."

"Iya Amin. Aku balik luan ya Rif. Udah sore. Thanks."

"Oke deh, sampai ketemu lagi."

Sejak saat itu gue udah gak ketemu Ina lagi. Dia udah lebih sering pergi bareng pacarnya. Dan gue pun kembali hancur dan rapuh. Iya bener, kayak ABG labil. Tapi dari setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Kita harus selalu mengikhlaskan sesuatu. Selain itu, mungkin kalo gue gak ketemu Ina, sampe hari ini gue belum wisuda. Karena Ina gue jadi semangat lomba nulis skripsi sama dia. Karena Ina juga, dosen pembimbing gue yang cowok cepat luluh untuk tanda tangan skripsi gue. Dan juga, gue jadi belajar satu hal dari kejadian ini. Yaitu, ketika kita mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, ungkapkan saja. Bukan soal ditolak atau diterima, tapi soal kesempatan yang mungkin gak bisa lo dapat dua kali. Dan lo harus paham bahwa kesakitan yang nyata adalah ketika ada dua orang yang saling menunggu, tapi keduanya gak sadar. Itu sama aja kayak lo nunggu abang angkot, tapi dia gak tau lo nunggu, jadinya dia ya jemput-jemput penumpang lain. Ah analogi macam apa ini. Tapi intinya ya gitulah. Terakhir, lo juga harus tahu bahwa setiap masalah pasti ada sisi positifnya, lo cuma harus lebih membuka mata lo untuk melihat dari setiap sudut, bukan satu sudut aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar