Hidup itu kan pada intinya sangat jauh berbeda dari cerita dongeng yang selalu "happily ever after" di akhir cerita. Dan juga gak seperti cerita FTV yang tayang tiga kali sehari, pagi, siang, malam, udah kayak minum obat. Kalo di FTV, lo cuma jual sayur pun bakalan ada yg cinta sama lo dan dia pun naik mobil. Tapi jangan mimpi bakal kejadian di dunia nyata. Oke, kita gak akan bicarain soal hidup secara general, kita spesifikkan ke dalam persoalan perasaan, yaitu cinta. Cinta yang sudah menyentuh ke setiap golongan, warna kulit, maupun usia ini sudah menjadi kisah utama dalam kehidupan.
Cinta adalah sebab utama mengapa manusia bisa ada sampai sekarang. Karena cinta, Nabi Adam dan Hawa dapat bersatu setelah terpisah cukup jauh dan sangat lama. Itulah sejarah awal manusia. Dan cinta juga menyatukan dua orang manusia kemudian terlahirlah manusia-manusia baru, seperti itu seterusnya. Termasuk kita yang terlahir berkat cinta yang tertanam di hati orang tua kita. Dalam hal ini, kita bisa lihat betapa sucinya cinta.
Tapi lo pernah gak terpikir bahwa ada sisi dari mencintai itu yang gak enak, yaitu ketika lo harus mengikhlaskan cinta. Itu pengorbanan terbesar ketika kita sudah masuk ke dunia cinta. Lo akan dihadapkan ketika cinta gak bisa dibangun lebih tinggi lagi, dan lo harus ikhlas untuk berhenti dan lo harus membangun cinta yang baru, lo harus percaya lo bisa. Kayak udah gue bilang di awal, cinta di dunia nyata itu gak kayak di cerita dongeng, kita harus berkali-kali rasain "broken heart" baru kemudian "happily ever after". Lagi-lagi lo harus percaya.
Cinta... Ada kalanya lo harus pertahanin, dan ada kalanya lo harus relakan. Ada banyak yang sulit kita lawan di dunia ini, salah satunya takdir. Awalnya cinta memang harus diperjuangin, banyak pengorbanan disini. Tapi pada dasarnya perjuangan cinta itu tidak sendirian, karena cinta menyangkut dua hati maka cinta harus diperjuangkan oleh dua orang. Kalo lo mau diperjuangin, lo juga harus mau berjuang juga, jangan mau enaknya aja dan sok merasa spesial. Dan perjuangan cinta juga mengenal batas, ketika lo udah berjuang namun gak kunjung menuai hasil, kemudian lo merasa lelah, mungkin lo harus coba berhenti. Karena cinta pada dasarnya tidak bersifat memaksa.
Dan setelah lo udah berhenti berjuang dan lo baik-baik aja atau bahkan bisa lebih baik, berarti lo harus segera merelakan cinta itu. Gak usah kebanyakan drama buat status di media sosial, galau, sok rapuh. Lagipula harusnya lo paham bahwa diri lo ya lo sendiri yang atur, jangan mau diatur-atur sama orang lain, apalagi mereka yang gak peduli sama sekali. Kalau kata penulis novel, Alitt Susanto, jadi katanya cara mengukur lo butuh dia apa gak adalah dengan cara lo menjauh dari dia, kalo lo baik-baik aja, berarti sebenarnya kita gak butuh-butuh dia banget.
Oke, kalo lo punya temen berada di posisi ini dan lo saranin untuk rela dan ikhlas melepaskan, ada beberapa kemungkinan jawaban, kalo gak "kamu gak ngerti karna gak di posisi aku", atau "kamu gampang bilangnya", atau "susah cerita sama kamu", dan yang terakhir temen lo gak balas lagi tapi dia diam-diam nangis di kamar. Ya kita semua tahu bahwa cinta terkadang gak ada logika, ketika lo jatuh cinta, sebagian besar logika lo bakal tertutup, dan perasaan yang memainkan semuanya. Tapi lo harus ngerti dan jangan mau dibegoin mulu.
Intinya sih, kita semua harus punya standar kapan kita perjuangin cinta dan kapan kita melepaskan cinta. Supaya kita gak malah mengganggu orang yang kita cinta. Kita juga harus peka terhadap perasaan orang yang kita cinta. Menghargai itu indah, kan. Selain itu juga, kita bisa terhindar dari rasa bego karena cinta, jangan sampai cinta yang mengendalikan kita, tapi kita lah yang mengendalikan cinta. Kan lebih baik kita simpan energi kita untuk perjuangin orang yang pantas diperjuangin, yang mau sama-sama berjuang dalam jalan cinta juga jalan menuju ridho-Nya. Bukan untuk orang yang sama sekali gak pantas. Tenang aja, kisah cinta setiap manusia itu kalo kita sungguh-sungguh pasti akan menemui "happily ever after" masing-masing.
Udah ah, sampe sini aja. Semoga ada yang tercerahkan hati dan pikirannya, hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar