"Sayang dimana? Sedang apa? Sama siapa?"
Itulah pertanyaan-pertanyaan normal dan sering keluar ketika lo berhubungan jarak jauh. Berhubungan yang mengandalkan sesuatu yang sifatnya semu yaitu kontak hati. Bulshit? Tentu tidak, setidaknya ketika lo ngejalaninnya. Lo akan percaya bahwa tanpa bertemu dan bertatap muka, hubungan lo akan baik-baik saja. Oke, banyak orang yang berhasil dalam LDR, tapi coba tanyakan pada mereka bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang mereka lakukan. Seberapa keraskah?
Ini kisah tentang gue yang sempat ngerasain dan ngejalanin LDR. Semoga aja bisa jadi pelajaran buat lo pada yang mau mencoba rasain juga, Oke, bisa dibilang lo mau coba uji nyali. Lo akan ngerasain moment dimana lo kesal sama orang tapi lo cuma bisa melampiaskan lewat kata-kata. Atau ketika lo merasa rindu tapi lo cuma bisa cium layar henpon lo.
Getaran hape membangunkan gue setiap paginya.
"Pagi sayang... Bangun gih, subuh dulu."
"Oh iya sayang, ini juga udah bangun, mau solat subuh juga, pas terbangun eh kamu sms, kebetulan banget ya", balasku sambil mengucek mata dan mengelap ences pagi hari. Menjijikkan? Oke iya.
"Wah kebetulan banget ya, ya udah aku mau siap-siap ke sekolah dulu ya, kamu juga nanti jangan lupa ke kampus, jangan main ps lagi, jangan ngopi terus".
"Paling tau deh, iya iya, nanti aku ke kampus mau ketemu dosen pembimbing, miss you".
"Miss you, too".
Oh iya, tips pertama, lo harus sering-sering bilang kata-kata cinta sejenis "Love you" atau "miss you", biar pacar lo gak lupa kalo dia ada pacar. Udah gak ketemu, gak perhatian juga, kiamat deh.
Eh iya hampir lupa, kenalin pacar gue (waktu itu) namanya Vika (sebut aja begitu), dia masih SMA, dan gue mahasiswa semester akhir. Eit, gue bukan phedofil ya, gue cuma mikirin masa depan, jadi rencana gue ketika gue udah mapan kerja, dia juga udah mapan jadi ibu-ibu, bukan ketika dia udah ngebet jadi ibu-ibu, lah gue nya masih luntang lantung, apa kata mertua.
Soal gimana kami bisa ketemu kayaknya gak perlu dibahas, yang lo cukup tau adalah rumah kami berdua sebenarnya dekat pake banget, tapi karena gue kuliah dengan cara merantau, itulah yang buat kami harus berada di situasi ini.
Bulan-bulan awal pacaran sih gak ada masalah yang berarti. Kami menikmati hari demi hari penuh cinta dengan rutinitas yang relatif sama. Kabarin pagi, ingatin boker. ingatin makan siang sampe salah satu tidur siang, sore juga lewat sms, malamnya yang terkadang ngobrol via telepon, menatap langit malam yang sama meskipun ada jarak yang terbentang, dan lap-lap ences bareng, Ah itu juga gak usah digubris.
Waktu itu kami cukup yakin ini semua akan baik-baik saja. Kami yakin kami bisa lewati ini dan bersama selamanya kayak cerita negeri dongeng. Bukan, bukan Puss In Boots, bukan Red Riding Hood juga, hemm Snow White donk yang ada pangerannya. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang.
Kendala anak LDR yang terbesar adalah ketika dia membutuhkan sesuatu dan lo gak pada tempat yang tepat. Disinilah akan muncul pepatah cina yang mengatakan bahwa yang utama akan terganti dengan yang selalu ada. Lo Dimana? Lo bisa apa? Lo cuma bisa berdoa. Sedih? Iya.
Ibarat karang yang keras aja bisa pecah dengan setetes air yang jatuhnya lebih sering daripada jadwal ngopi mahasiswa leting tua. Bayangin dah tu gimana seringnya. Tiap hari gitu terus ya hancur juga tembok cinta yang dibangun pake semen kasih sayang. Ceileh...
Dan saat yang menyuramkan itu pun terjadi juga. Ketika dia memilih orang yang selalu ada dari pada orang yang udah lama bermimpi bersama. Dan didalam situasi ini, lo otomatis akan bilang dia jahat, pengkhianat, dajjal, apalagi yang jahat-jahat, isi sendiri ya.
Gue hancur, gue rapuh kayak anak ABG labil. Gue jadi sering ngomong sendiri, hantuk-hantukin kepala ke Teddy Bear, bergaya jadi power ranger, makan somay gak bayar, dan gue jadi sering jumpai dosen bawa-bawa kertas. Oke, yang terakhir gak usah dipikirin. Tapi pokoknya serem lah kan.
Gue melewati masa-masa suram. Sampe tiba-tiba gue wisuda gak sengaja. Tanpa sadar gue selesain kuliah gue. Dan disitulah gue sadar bahwa ini semua gak begitu buruk. Karena kejadian itu gue jadi semangat nulis skripsi, sebenarnya karena gak tau lakuin apa juga. Dan banyak hal-hal baik yang tiba-tiba muncul.
Intinya sih, sebenarnya LDR gak seseram yang diceritakan disini. Tergantung kita nya juga mau memperjuangkan cinta atau tidak. Sering ketemu kalo memang kita nya gak bisa perjuangin hubungan, ya kandas juga. Bahkan, LDR memberikan banyak cerita dan pelajaran dalam hidup kita. Buktinya ini bisa jadi satu tulisan kan. Ada cerita bagaimana salah satu kasih surprise dengan tiba-tiba datang ke rumah. Jarak itu bukanlah soal angka yang tercantum, tapi soal bagaimana cinta menyatukan dua hati, dari yang jauh jadi dekat. Dan ada yang dekat jadi jauh, kalo itu mending bubar aja deh. Karena inti dari hidup adalah proses belajar, bagaimana kita dapat memetik pelajaran dari setiap yang kita lewati, dari semua orang yang ada atau pernah ada, dan dari luka dan kesenangan. Syukuri hidupmu, kawan, Life must go on!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar