Sabtu, 31 Januari 2015

Beberapa Kategori Orang Pacaran

         Zaman sekarang pacaran seperti sudah menjadi gaya hidup. Kata orang kalo gak pacaran itu gak keren. Bahkan anak-anak sekolah pun sudah banyak yang berpacaran, pergi sekolah bareng, Maka dari itulah gue buat riset tentang kategori-kategori dari fenomena sosial ini. Dan berikut hasil risetnya.

1.             Pacaran Serius
Kategori pacaran ini adalah kategori yang paling baik diantara lainnya. Kategori ini menuntut pelakunya untuk berkata cukup dengan satu orang saja dan berharap bisa melanjutkan kan jenjang pernikahan dan sampai maut memisahkan.

2.             Pacaran Main-Main
Kategori pacaran ini adalah kebalikan 180 derajat dari Kategori pertama, ini adalah kategori yang paling buruk dari segala kategori orang pacaran. Orang-orang yang berada di kategori ini sudah dipastikan berpacaran untuk hal-hal tidak baik pula. Ada maksud-maksud tertentu dan terselubung dari sebuah cinta suci.

3.             Gak Sengaja Pacaran
             Kalo kategori ini berada di tengah-tengah antara kategori pertama dan kedua. Dikatakan baik tidak juga, dikatakan buruk juga tidak. Kalo dalam hokum Islam disebutnya mubah. Kategori ini maksudnya ada orang-orang yang pacaran secara tidak sengaja, terkadang mereka sedang ngobrol, bercanda-canda, eh tahunya jadian. Udah gitu aja. Atau mungkin mereka main dukun, disantet, waktu masa berlaku santetnya habis, mereka tersadar dan gak sengaja pacaran. Biasanya hubungan ini gak berlangsung lama, ketika mereka sadar mereka memutuskan berpisah dan tidak ada kenangan apapun. Hilang gitu aja kayak debu di jalan lalu disiram petugas berwenang.

4.             Pacaran Backstreet
 Berdasarkan terjemahan backstreet sendiri yang artinya bisa dikatakan jalan belakang. Berarti pacaran jenis ini adalah pacaran yang diam-diam. Biasanya gak begitu banyak yang tahu hubungan mereka. Mereka sembunyikan hubungannya bisa karena banyak hal, bisa jadi mereka masih di bawah umur, gak dapat restu orang tua, atau mereka adalah pasangan selingkuh.

5.          Pacaran Jarak Jauh
Kata orang sih pacaran tipe ini adalah pacaran yang paling kuat ikatan hatinya. Bayangkan tanpa bertemu, mereka harus selalu menjaga hati mereka. Ini dapat terjadi juga karena beberapa alasan, bisa jadi karena keduanya berkerja atau kuliah di kota yang berbeda, atau mereka memang tinggal di kota berbeda.

6.             Terpaksa Pacaran
        Kategori ini dapat dilihat dengan tanda-tanda seperti mereka gak pernah update status tentang pacarnya, atau pasang display picture BBM foto pacarnya, pokoknya segala hal tentang pacarnya tidak pernah dipublish sama sekali. Ini bisa dikarenakan mereka sudah terlalu lama jomblo, ada yang dekat ya udah diterima aja walaupun mereka gak cinta. Atau bisa juga karena dijodohkan, mereka merasa gak enak jika menolak.

7.                   7.      Pacaran Sosial Media
          Pacaran ini agak aneh, tapi beneran nyata. Biasanya orang milih pacar berdasarkan pada bobot, bibit, dan bebet. Lah ini cuma berdasarkan foto profil atau avatar sosmed. Jadi mereka-mereka ini gak saling ketemu, gak tau gimana bentuk aslinya, tapi pacaran. Mungkin mereka mengamalkan pepatah bilang “Cinta tidak selalu soal fisik”.

8.             Pacaran Pelampiasan
Kategori ini biasa juga disebut dengan pacaran pelarian. Biasanya disebabkan karena hasrat ingin cepat move on paska putus. Atau ingin bilang ke mantannya, “aku laku kan” atau “aku bisa tanpa mu”. Sesungguhnya hal ini tidak menyelesaikan apapun, kamu hanya tutup lubang gali lubang lagi di tempat yang sama. Dan juga, pacaran jenis ini bisa membuat batin kamu tersiksa karena kamu sayangnya ke orang lain tapi pacarannya sama yang lain.

9.             Pacaran Syariah
Pacaran kategori ini sebenarnya gak dibenarkan, mana ada pacaran bisa syariah. Tapi karena fenomena ini ada di kehidupan nyata, maka gue masukin. Pacaran jenis ini biasanya mengarah ke hal-hal positif, semoga ya. Karena kebanyakan pelaku jenis pacaran ini mereka pacaran terus perginya ke Mesjid, kadang pergi ke pengajian, mereka juga terkadang kalau pergi-pergi beda sepeda motor, agar tidak bersentuhan. Kalaupun harus satu sepeda motor, mereka duduknya berjauhan, yang satu di ujung depan, satunya di ujung belakang. Tengah-tengahnya bisa dikasih tirai atau spanduk caleg.

10.         Pacaran Kutu Buku
Hampir sama dengan pacaran syariah, pacaran jenis ini juga mengarah ke hal-hal positif. Mereka pacarannya di perpustakaan, toko buku, atau di café yang ada wifi nya agar bisa kerjain tugas bareng. Mereka juga sering belajar bareng. Belajar hal-hal positif, jangan mikir jorok gitu.

11.         Pacaran Sehat
Masih satu keluarga dengan pacaran syariah dan pacaran kutu buku, jenis pacaran ini juga mengarah ke hal positif. Untuk kesehatan. Mereka sering pacarannya di jogging track, atau di tempat fitness. Bisa jadi main basket bareng, banyak olahraga yang dilakukan berdua. Bisa berhubungan dengan bola. Ya kayak bola te.....nis. Iya tenis, jangan mikir aneh-aneh.

12.         Pacaran Romantis
Jenis pacaran ini katanya paling sweet. Mereka selalu punya cara untuk buat segala hal menjadi manis dan romantis. Mereka juga sering buat puisi, buat video stopmotion, kasih bunga, coklat, rumah, mobil, apartment. Sweet banget kan...

13.         Pacaran Papa-Mama
Pacaran ini sudah sangat merakyat saat ini. Jadi orang pacaran, mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan papa-mama, pipi-mimi, ayah-bunda, abi-umi, kakek-nenek. Ah suka-suka mereka pilih yang mana.

14.         Pacaran Labil
     Jenis pacaran ini didasarkan oleh kelabilkan seseorang dalam menjalani hubungan. Mereka biasanya suka putus-nyambung terus putus lagi dan nyambung lagi, Mereka sudah rebut atas hal-hal kecil, misal cemburu dengan kucing tetangga.

15.         Pacaran Lebay
Jenis pacaran ini bisa dilihat kelebayan mereka di setiap sosial media yang mereka punya, facebook, twitter, instagram, path, friendster. Mereka juga lebay dalam menyikapi sesuatu. Juga suka heboh atas hal-hal kecil, dan dipublish lagi di status. Hemm. I have no more idea about this category.

16.         Pacaran Cabe-Cabean vs Terong-Terongan
Jenis pacaran ini adalah jenis pacaran yang paling komplit, ibarat nasi goreng, ada bistik, ayam, dan telor dadar. Bayangkan cabe-cabean dipadukan dengan terong-terongan. Sudah dipastikan full colour. Di pinggir-pinggir jalan banyak seperti ini.

17.         Kayaknya Sih Pacaran
Yang ini adalah terakhir dan yang paling nyesek di antara segala hal di dunia ini. Ini ketika orang panggil saying-sayangan, jalan berdua, apa-apa berdua. Tapi statusnya nihil. Ibarat nasi goreng, komplit ada ayam, telor dadar, bistik, seafood, kerupuk, tapi nasinya gak ada, Ya ampun.... Dan biasanya pelaku hubungan jenis ini sangat menikmati hari-harinya, sampai akhirnya ada moment yang disebut “Ditinggal Kawin”.

Ya begitulah jenis-jenis atau kategori dari orang pacaran. Semua ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya. Boleh percaya atau tidak. Quick count pilpres aja bisa salah hitung kok...

Rabu, 28 Januari 2015

Arti Cinta Dalam Segelas Kopi

             Kisah ini bermula ketika gue mau balik ke kota dimana gue kuliah, Banda Aceh. Sebuah kota dengan permandangan pantai menakjubkan, setidaknya bagi gue yang gak pernah pergi-pergi jauh ini. Sialnya, gue balik mendadak dan gak sempat pesan tiket bis, berharap bakalan masih ada bis yang mau menampung seorang anak kos ini. Sampai di terminal bis gue langsung ke loket salah satu bis, syukur masih ada satu tiket terakhir, meski posisi duduk ini bukan favorit gue, tapi gue harus terima dengan lapang dada. (#NP Sheila On 7 – Lapang Dada). Gue duduk sambil nunggu waktu keberangkatan. Duduk di sudut terminal, karena gue gak begitu suka berada di tengah-tengah orang ramai. (Ya iyalah, duduk mah di kursi, bukan di tengah orang duduk). Tiba-tiba... Mata gue terarahkan secara otomatis seperti roket rudal rusia yang membidik target, siap meluncur. Tapi apalah daya, keberanian gue untuk ajak kenalan cewek di tempat umum gak seperti artis-artis FTV. Dan, gue hanya menyimpan kekaguman ini sampai di mata saja.
Jam keberengkatan pun tiba. Setelah berpamitan dengan teman gue, gue langsung naik ke bis lalu mencari-cari nomor kursi yang tertera di tiket. Dapat, nomor 18. Gue duduk di samping bapak-bapak paruh baya, kira-kira umurnya sudah masuk kepala empat lah. Setelah ambil sebotol air mineral dan earphone dari tas gue lalu meletakkan tas di rak atas yang selalu ada di setiap bis, gue langsung duduk di sebelah bapak tadi. Oke, tips pertama bagi lo pada yang mau naik bis, kalau lo mau letakkan tas di atas rak atau jauh dari jangkauan tangan, agar tidak repot nantinya selama perjalanan, lo sebaiknya keluarkan dulu yang kira-kira akan lo butuhin dalam perjalanan. Bagi gue, gue hanya perlu air dan earphone atau sejenisnya yang bisa buat lo dengar lagu di handphone tanpa mepulu bangunin orang satu bis.
“Maaf Bang, Abang duduk di kursi nomor berapa ya? Saya duduk disini, nomor 22”, tiba-tiba ada seorang pria yang umurnya kira-kira dibawah gue dua tahun.
“Hah? Apa apa?”, gue lupa cabut earphone.
“ABANG DUDUK DIMANA? SAYA DUDUK DISINI NOMOR 22”, sahut orang tadi sambil sedikit teriak yang diikuti tatapan kaget dari orang satu bis. Oke, ini tidak sedikit.
“Oh, saya duduk di bangku nomor 18, salah ya? Maaf... Eh tapi biasa aja donk bicaranya gak pake jerit-jerit”, jawab gue dengan muka paling polos.
“Lagian abang diajakin ngomong gak nyambung’, jawab orang tadi diikutin dengan duduk dikursi itu setelah gue bangun.
Ya memang gue salah nomor kursi, ya namanya juga manusia, kadang-kadang suka lupa. (Ini sih bukan lupa, tapi rabun). Lalu gue duduk di kursi nomor 18 yaitu tepat di depan kursi yang gue duduki tadi. Dan, betapa kagetnya gue ternyata gue duduk di sebelah cewek yang tadi gue lihatin di terminal. Dalam hati sih gue sudah girang banget, bukan, bukan vokalis Nidji, itu Giring. Bukan yang untuk belah kelapa juga, itu parang, oh jauh ya, oke lah. Dalam hati sih girang bukan main, tapi sebagai cowok gue harus cool dan biasa aja. Lalu dengan biasa aja gue duduk di kursi itu sambil beri senyum kecil. Cowok harus gitu, harus penuh misteri, jangan terlalu ekspresif, supaya cewek penasaran gitu. (benerin kerah baju). Kali ini gue gak boleh lepasin kesempatan ini, gue harus tahu nama dia, kuliah dimana, tinggal dimana, nama orang tua dia, IPK dia, gimana dia di kampus, pengalaman, dan tujuan dia naik bis ini. (Lah ini apa).
Gue coba pancing dia, (ikan kali...), pancing dengan senyuman. Dan ternyata dia muntah. Ya enggaklah, dia senyum balik. Maka itu, gue harus mulai ngobrol.
“Hai, mau kemana?”, gue mulai.
“Ke Banda Aceh bang, kalo ke Medan bukan ini arahnya”, dia jawab, entah niatnya ngelucu, tapi gue ketawa dikit aja.
“ Abang mau ke mana?”, dia tanya balik rupanya.
“Oh sama, ke Banda Aceh juga ini. Oh ya, boleh tahu namanya?”.
“Panggil aja Miky, bang. Kalo abang?”, jawabnya, namanya cantik sih, tapi bisa aja nama panjangnya Mikeyem mungkin, atau Mikiyati.
“Abang.... Kok mulutnya goyang-goyang, abang certain saya ya?”, dia semacam tau gue ngomong dalam hati.
“Eh gak gak, haus aja mungkin. Oh ya, panggil aja aku Arif”, gue jawab sambil minum, ini formalitas aja biar nampak gue beneran haus.
Setelah itu banyak hal yang kami obrolin, dari soal kampus. Ternyata kami kuliahnya di fakultas yang sama. Hanya saja beda jurusan, dia jurusan seni. Dan dia juga adik angkatan gue. Kenapa dulu waktu masa orientasi mahasiswa baru gue gak ketemu dia ya. Atau mungkin karena waktu masa orientasi mahasiswa baru kan semuanya kucel seharian dijemur di terik matahari.
Gak terasa perjalanan sudah dua jam atau tepat pukul 12 tengah malam. Sudah banyak penumpang lain yang tidur dan kami pun sudah mulai lelah akhirnya kami memutuskan untuk tidur atau sekedar memejamkan mata agar perjalanan jadi gak terasa cepat sampai. Secara kami harus menenmpuh perjalanan lebih kurang 8 jam. Dan obrolan kami pun berakhir, itu cukup sih buat gue tahu dia adalah tipe orang yang lucu, unik, ceria, dan suka bercanda. Oh ya, dia manis dan cantik juga. Nyaris sempurna.
Ternyata tanpa sadar gue tertidur dan tanpa sadar gue juga, ternyata bis sudah sampai di terminal kota Banda Aceh. Gue dibangunkan oleh lampu bis yang menyala terang. Waktu saat itu menunjukkan kira-kira pukul 5 lebih 30 menit. Gue sedikit membuka mata dan terasa ada kepala yang bersandar di bahu gue, kepala siapa lagi, kan gak mungkin kepala supir bis nya. Tapi gue pura-pura aja belum bangun supaya dia gak kaget dan malu. Gak lama dia juga terbangun dengan sedikit kaget karena kepalanya udah berlabuh di bahu gue, (halah). Tapi karena dia lihat gue yang (pura-pura) masih tidur, dia cuma kaget aja, gak pake malu. Gak lama dari itu, gue (pura-pura) baru bangun.
“Wah sudah sampai ya, gak terasa”, gue bilang ke dia.
“Iya nih, lelap banget tidurnya”, dia jawab.
“Kamu naik apa ke kost?”, gue tanya ke dia lagi.
:Oh ada temen, bentar lagi di jemput”.
“Ya sama donk. Oh ya, boleh tukaran pin BBM, mungkin lain waktu kita bisa ketemu lagi”.
“Boleh, ini di-barcode aja”.
Sekitar setengah jam kami sama-sama menunggu teman kami jemput, Miky dijemput lebih awal baru setelah 5 menit kemudian gue yang dijemput. Tapi setelah itu kami mulai intense komunikasi dan dekat. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk ngedate pertama. Kami pergi ke sebuah warung kopi yang cukup bersahabat untuk cewek dengan tempat yang gak “uwak-uwak” kalau kata orang Medan. Miky memesan teh tarik yang belakangan gue tahu itu minuman favoritnya, gue seperti biasa memesan kopi hitam untuk menguatkan kesan macho sebagai cowok, kalo gue minum susu putih di depan cewek kan jatuhnya cemen. Ya walaupun setelah itu gue masuk angin karena kopi, ya itu urusan nanti lah. Anyway, ngedate pertama berjalan lancar.
Dua minggu setelah ngedate pertama, kami memutuskan untuk ngedate kedua. Kali ini kami pergi untuk mencari buku, Miky bilang pingin baca buku, bukunya sudah habis dibaca semua. Ya walaupun gue gak begitu akrab sama toko buku, paling ke toko buku untuk beli alat tulis, paling banter beli poster presiden dan wakil presiden. Tapi demi Miky sih toko pakaian dalam wanita pun gue pergi. (Lah itu enak donk). Miky memilah-milah buku, gue juga. Miky beli salah satu novel Tere Liye yang terkenal mellow dan cocok untuk cewek. Gue juga gak mau kalah, gue beli buku “Politik dan Hidup Bernegara Menurut BJ. Habibie” yang belakangan gak terbaca sedikit pun. Anyway, ngedate edisi kedua juga berjalan lancar.
Hubungan kami semakin intense, sudah satu setengah bulan sejak kami ketemu pertama kali. Kali ini gue pengen ajak dia ngedate lagi dan nembak dia. Kali ini kami pergi ke pantai yang memang terkenal keindahannya. Disana kami tidak main air, kami hanya ingin menikmati permandangan yang disuguhkan oleh alam. Sampai saatnya matahari mulai akan terbenam.
“Mik, aku mau bicara deh”, gue bilang ke dia,
“Iya, biasa juga bicara kan, gak pernah gak boleh”
“Iya sih, tapi ini beda”.
“Ya udah, mau bilang apa?”
“Kita kan udah lama dekat, kita juga udah sama-sama tahu”. Ada hening sejenak...
“Ya terus apa?”. Dia tanya lagi.
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”, (diciyeein kepiting)
“Oh bilang itu, kayaknya aku gak punya alasan deh buat nolak kamu”. (Diciyeein pedagang kelapa muda). Diikutin senyum kecil dia mengiyakan pertanyaan gue. Akhirnya kami jadian dan sunset hari itu menjadi saksi.
Hari demi hari, minggu ke minggu, bulan berganti, gue lewatin dengan status gak jomblo lagi. Senang? Ya iyalah... Hari-hari terasa baru, semuanya ceria. Full of happiness deh pokoknya.
Tiga bulan pertama semuanya masih intense. Masuk bulan ke-4 sudah mulai biasa, mulai ada ribut-ribut kecil tapi langsung diselesaikan, terus sayang-sayangan lagi. Ya maklum lah. Masuk bulan ke-8 mulai sering ada marahan besar, ngambekan, gak kontak-kontakan beberapa hari. Tapi karena rindu, salah satu ada yang ngalah. Masuk bulan ke-10 ribut sudah mulai lebih sering. Mungkin dia sudah mulai bosan, tapi gue simpan rapat-rapat pikiran itu agar tidak semakin sulit situasinya.
Sampai akhirnya masuk setahun kami berhubungan, ada saat dimana kami gak komunikasi selama dua minggu. Akhirnya mau gak mau gue harus nanya ke dia dan bicarain ini. Gue telepon dia dan ajak ketemu, meski dengan nada malas dia mengiyakan ajakan gue.
“Kamu kenapa? Ini udah parah banget lho”. Gue tanya ke dia.
“Gak kenapa-kenapa, lagi malas aja”.
“Lagi malas gak sampe dua minggu juga kali”.
“Terus kamu mau apa?”
“Aku cuma tanya kan.”
“Iya tapi kamu menghakimi aku”
“Aku gak gitu, kalo gini terus untuk apa kita pacaran”.
“Tuh kamu tau, aku bosan, aku pingin putus, tapi kita putus baik-baik, jangan musuh-musuhan”.
“Kalo baik-baik kita gak putus namanya”.
“Ya kita putus, tapi baik-baik, aduh gimana sih bilangnya”.
“Oke oke, kalo kamu maunya gitu, baiklah kita putus dengan BAIK-BAIK”.
“Bilang baik-baiknya biasa aja donk...”
“Iya baik-baik...” (nelan garpu).
Mulai hari itu kami putus, sendok dan garpu yang jadi saksi. Tapi semuanya gak selesai gitu aja. Gue terus mikir kenapa dia bisa bosan, kenapa semuanya gak bisa sama terus dengan hari-hari pertama kami jadian. Kenapa harus ada yang berubah. Pertanyaan-pertanyaan ini terus mengisi pikiran gue.
Sebulan kemudian, gue liat di akun facebook-nya Miky sudah mulai pacaran lagi. Dengan orang yang selama ini gue pikir mereka temanan biasa. Gue pergi ke warung kopi dimana kami ngedate pertama kali dan duduk di kursi yang sama. Gue pesan kopi hitam lagi. Gue seruput kopi itu, meski pahit, tapi gak sepahit waktu pertama kali gue minum kopi. Gue sudah mulai terbiasa dengan rasa pahit kopi. Mungkin hidup seperti itu, kita harus merasakan beberapa kali patah hati untuk mulai terbiasa dan menikmati rasa pahitnya. Juga, tentang kopi ini, awal dikasih dengan terasa panas kopi ini terasa lebih nikmat dibanding ketika sudah lama dan dingin. Namun bagi pencinta kopi, meski sudah dingin, kopi ini masih terasa nikmat, kuncinya bagaimana kita mencintai kopi itu sendiri. Dalam hubungan, awalnya hangat memang terasa indah, namun ketika sudah lama bukan berarti tidak indah lagi. Kuncinya ada di tangan kita yang merasakan cinta itu sendiri, benar-banar mencintai dia atau tidak, dia sang pilihan hati kita.

Senin, 29 Desember 2014

Saling Menghargai

Kali ini ingin membahas tentang sesuatu yang serius dan sedikit memaksa kalian untuk berpikir dan membayangkan. Ini tentang segala sesuatu yang pada dasarnya itu dinilai dari persepsi dan cara pandang kita terhadap hal itu. Seperti kita sebut "air penuh" dengan dua wadah berbeda, wadah pertama adalah sebuah gelas dan yang kedua adalah sebuah teko. Si gelas dengan setengah liter air sudah terisi penuh dan si teko baru terisi penuh dengan tiga liter air. Si gelas dengan angkuhnya berbicara di level setengah liter bersama si teko. Si teko yang terisi air tiga liter tentu merasa kata-kata itu sangat rendahan. Dan ketika si teko berbicara di level tiga liter tentu membuat si gelas bingung dan menganggap teko berbicara di luar konteks. Pada akhirnya obrolan itu pun gak ketemu titik tengah. Lalu apa yang harus dilakukan? Adalah kata "menghargai" yang menjadi kuncinya. Tidak perlu terlalu angkuh akan sesuatu yang kita miliki, karena akan ada yang lebih tinggi dari kita nantinya. Tapi si gelas dan si teko tadi bisa malaksanakan tugas mereka masing-masing sesuai kapasitas dan kemampuan mereka. Kita tentu tidak bisa minum langsung dari teko, dan gelas juga tidak bisa menampung air lebih banyak dari teko.

Oke contoh lain antara anak desa dan anak kota. Seorang anak desa yang biasa tinggal di perdesaan jauh dari riuhnya perkotaan, jauh dari polusi dan kemacetan. Mereka disuguhkan permandangan alam yang indah nan asri juga udara yang sejuk. Suatu hari mereka diajak ke kota, dan mereka dengan takjubnya melihat gedung-gedung menjulang tinggi melebihi bukit-bukit di desa mereka. Mereka juga kagum melihat mobil-mobil mewah di jalanan kota. Sebaliknya, anak kota yang terbiasa melihat gedung-gedung pencakar langit, terbiasa melihat mobil mewah di jalanan, ketika mereka pergi ke desa juga akan takjub dengan suasana desa yang tentram dan indah dengan permandangan alamnya. Lagi, kuncinya adalah "menghargai". Jangan pernah merendahkan orang lain atas bagaimana situasi yang mereka dapat. Sadarilah bahwa kita diciptakan berbeda dengan warna masing-masing untuk menjadi pelangi di bumi.

Lagi, ini soal isu yang agak sensitif. Tentang agama dan warna kulit. Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kebajikan hidup di bumi. Kita semua diperintahkan untuk saling menjaga satu sama lain untuk menciptakan bumi yang aman dan damai bagi semua manusia. Tentang aqidah kita harus punya dasar sendiri-sendiri. Jadilah umat beragama yang bukan sekedar punya agama, tapi yang berilmu dan pelajarilah serta laksanakan segala yang diperintahkan dan jauhi segala yang dilarang. Soal warna kulit juga hampir sama, Tuhan menciptakan kita berbeda-beda pasti ada tujuannya, dan itu pasti yang terbaik. Janganlah perbedaan agama, warna kulit, suku, ras, dan lainnya dijadikan sumber perpecahan dan perperangan. Toh, damai itu indah kan. Lagi, menghargai adalah kuncinya.

Terakhir, penyakit bisa datang ke kita kapan saja, kita juga bisa 'berpulang' kapan saja. Orang yang terindikasi memiliki penyakit seperti HIV/AIDS atau thalassemia bukan untuk dijauhi. Datangi dan support mereka untuk selalu semangat hidup. Kelak ketika giliran kita sakit, mungkin di hari tua, kita juga tidak dijauhi orang-orang yang kita sayangi.

Hidup itu indah jika kita bersama. Bersama itu indah. Perbedaan yang bersama-sama itu bak pelangi indah yang menghiasi langit. Melengkung seperti sebuah senyuman.

Senin, 08 Desember 2014

Perenungan

Dalam hidup memang selalu ada pilihan,
Termasuk memilih dari baik ke buruk,
Atau dari buruk ke baik,
Itu pilihan kita sebagai masing-masing individu,

Memang dari buruk ke baik lebih positif dibanding dari baik ke buruk,
Lantas,
Apa kita yakin jika hari ini kita berbuat keburukan,
Maka kita akan bertemu hari esok untuk memperbaikinya,

Atau,
Jika kita berprinsip untuk nakal dulu di masa muda,
Dan berbuat baik di hari tua,
Padahal tidak ada seorangpun yang bisa menjamin kita akan menemui hari tua,

Maka muncullah pilihan untuk selalu berusaha menjadi baik,
Tanpa menunggu hari esok tiba,
Kalaupun kita dapat melihat hari esok dan masa tua,
Apa kita yakin bisa berubah baik,
Jika hari ini saja kita lebih memilih untuk menjadi buruk,

Dan bila itu terjadi,
Maka kita dapat pilihan terakhir,
Yang terburuk,
Menjadi insan yang selalu berbuat buruk,
Dan tanpa sadar,
Waktu kita tiba untuk kembali,
Renungkanlah.

Minggu, 07 Desember 2014

Dua Puluh Dua

Dua puluh dua akan selalu diingat,
Dengan segala ceritanya,
Hitam putihnya,
Suka dan duka,
Dan semua kenangan yang terukir,

Dua puluh dua yang paling bermakna sejauh ini,'
Memberi banyak pelajaran hidup,
Diawali dengan cerita manis,
Lika-liku romantisme,
Belajar untuk menerima,
Belajar untuk bersahabat dengan kenyataan,
Sepahit apapun itu,
Anggap saja itu obat,

Dua puluh dua penuh moment emosional,
Tentang perjuangan skripsi,
Menghadapi badai,
Teriknya matahari siang,
Lapar karena harus hemat,
Belajar sabar,

Dan puncaknya tanggal 28 Agustus 2014,
Senyum dari dua orang tersayang,
Air mata bahagia meski tak ditampakkan,
Seperti ada sebuah kelegaan,

Dua puluh dua akan selalu terkenang,
Terlalu indah,
Namun waktu harus segera berlalu,
Segala moment indah lainnya sudah menanti di depan,
Di dua puluh tiga,
Harapannya masih tentang ingin membahagiakan orang tua,
Menjadi sebuah kebanggaan,
Yang membuat mereka bisa tegak menghadapi hari tua.

Kamis, 04 Desember 2014

Cerita Anak Pedalaman

Kami sering mendengar tentang sahabat kami,
Sahabat satu negeri,
Kabarnya mereka bisa pergi sekolah naik sepeda,
Ada yang naik sepeda motor,
Ada yang naik mobil bersama orang tua,
Ada juga yang naik angkutan umum,

Seru rasanya,
Tapi kami gak kalah menyenangkan,
Kami pergi sekolah beramai-ramai,
Jalan kaki,
Dengan sepatu sederhana,
Yang kalau kami berjalan,
Bisa rasakan batu-batu yang kami injak,
Atau jempol kami yang hampir menyembul keluar,

Belum lagi kami harus berjalan jauh,
Kami harus pergi satu sampai dua jam sebelum buk guru memukul lonceng,
Kami harus menyeberangi sungai,
Dengan arus yang deras,
Jembatan yang hampir putus ini adalah jalan kami,
Kami senang bukan main setiap pergi ke sekolah,
Kami tertawa bersama,

Kata mamak dan bapak ini semua untuk cita-cita,
Kami tak tahu apa itu cita-cita,
Kata buk guru cita-cita itu apa yang kami inginkan,
Kalau yang kami inginkan,
Sangatlah sederhana,
Bisa membahagiakan mamak dan bapak,

Tapi kami sering mendengar teman-teman di kota banyak yang malas sekolah,
Sebagian dari mereka juga saling berkelahi,
Kami tak tahu mengapa demikian,
Kata buk guru,
Apapun yang terjadi,
Kami tak boleh berhenti sekolah,
Meski kami harus berenang melewati derasnya arus sungai.

LDR Jilid 2

Setelah gue cerita tentang hal negatif dari yang namanya hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR), kali ini gue mau cerita tentang hal positif dari LDR. Pada dasarnya di dunia ini Tuhan selalu menciptakan segala hal ada baik-buruknya atau positif-negatifnya, itulah yang disebut keseimbangan seperti yin dan yang atau hitam dan putih. Begitu juga dengan LDR, ada negatif tentu ada positif. Kalau soal lebih besar mana antara positif dan negatifnya, lo bisa nilai sendiri.

Pertama, lo bisa rasain cinta yang begitu besar lewat LDR. Karena lewat LDR hati lo akan lebih bermain dari indera lainnya. Secara lo gak bisa lihat dia langsung, lo gak bisa dengar suaranya langsung, apalagi lo mau nyentuh dia. Nah karena itulah hati lo mengambil peran yang lebih besar. Lo bisa senyum-senyum sendiri lewat chatting, bisa ketawa girang lewat telepon. Gila? Bukan, that's called love. Kebanyakan orang jika dihadapkan pada cinta akan berubah dari dirinya sendiri.

Kedua, lo bisa melatih sifat-sifat baik lo lewat LDR. Ada banyak sifat baik yang bisa lo latih seperti sabar, jujur, percaya, dan tanggung jawab. Oke, kita bahas satu persatu. Sabar, lo bisa melatih kesabaran lo karena lo akan dengan sabarnya menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu langsung dengan dia. Jujur, lo akan menjadi terbiasa jujur kalau lo bisa jujur juga sama dia selama lo LDR. Percaya, lo harus percaya sama dia kalau mau hubungan lo langgeng. Tanggung jawab, lo juga akan terbiasa tanggung jawab dengan banyak hal kalau lo bisa bersikap tanggung jawab atas hubungan yang telah lo dan dia jalin. Maka dari itulah, banyak sifat baik akan menjadi kebiasaan kalau lo bisa membiasakan selama lo LDR-an.

Ketiga, anak LDR akan mendapat moment-moment yang lebih bermakna dibanding orang pacaran biasa. Lo bisa kasih surprise ke dia, dan kalau lo lakuin ini momentnya akan sangat bermakna bagi dia. Secara, kalian jarang ketemu, sekalinya ketemu lo datang dengan misterius dan romantis. Itu rasa rindu yang tersimpan lama akan tertuang dan tumpah pada satu moment romantis.

Keempat, ketika sukses dengan LDR nya dan meresmikan hubungan itu pada satu ikatan resmi nan suci, anak LDR akan lebih banyak kisah yang diceritakan dan dikenang, tentang pahit manisnya cinta, tentang perjuangan pertahanin cinta hingga sampai happy ending seperti ini. Dan kisah-kisah itu akan bisa diturunkan ke anak cucu lo nanti agar mereka bisa mengerti bahwa cinta itu suci, indah, dan penuh perjuangan.

Nah, itulah empat hal baik tentang LDR yang bisa gue bagiin. Kembali ke paragraf pertama tadi, baik buruknya LDR lo sikapi sendiri. Asal gak ada yang tersakiti ataupun tersiksa batinnya. Seperti uji nyali dunia lain, lo bisa nyerah kapan aja. Ini cuma untuk perenungan dan penyemangat lo pada kalau sedang jalani status LDR. Sudah ya, sampai sini aja dulu. Bye...