Selamat malam kasih,,,
Apa kau masih menjaga rindu kita?
Atau kau meninggalkannya disana,
Disana di sebuah kota yang kita sebut perantauan,
Atau kau selalu membawanya,
Membawa didalam wadah yang kita sebut hati,
Apapun itu,
Yang pasti aku telah menjadikan rindu ini sebagai hiasan,
Hiasan dari sebuah permainan hati yang kita sebut cinta,
Cinta abadi yang tak mengenal waktu,
Cinta sejati yang tak mengenal jarak,
Cantikku,
Jagalah rindu ini selalu,
Selalu di dalam hari-hari kita,
Selalu menjadi penuntun kita menuju masa depan,
Selalu menjadi pelangi yang melengkungkan senyum setiap air matamu jatuh,
Selalu menjadi obat ketika kau mulai berpaling,
Terserah apapun yang kita rasakan,
Baik itu sepi,
Ataupun sakit,
Atau bahkan sampai menangis,
Yang jelas syukurilah itu semua,
Karna dengan begitu kita tahu bahwa kita masih saling menjaga,
Menjaga rindu di hati kita,
Menjaga cinta yang kita jalin,
Untuk sebuah tujuan bersama yang kita sebut masa depan.
Senin, 24 Juni 2013
Sabtu, 22 Juni 2013
Rembulan
Hai rembulan ku,,,
masihkah kau di atas sana?
untuk apa kau disana ketika manusia saja tidak memperdulikanmu?
apakah kau setulus itu,
ah aku meragukan itu,,,
Apa yang kau harapkan dari setiap cahaya yang kau berikan,
apa yang kau tunggu hingga kau setiap malam selalu di atas sana,
apa yang kau ingin manusia lakukan,
ah mereka hanya sibuk dengan bahagia mereka saja,
Tapi aku disini setia mengagumimu,
meski banyak orang menganggap ku aneh,
atau menganggapku berlebihan,
ku rasa tidak,
ku rasa mereka saja yang tidak tahu berterima kasih padamu,
Tetaplah menghiasi langit setiap malam,
tetaplah setia atas apa yang kau lakukan selama ini,
akan selalu ada kami yang bahagia atas kehadiranmu,
ya, kami,,,
kami yang seperti mu,,,
menyinari dengan cinta,,,
meski tak berbalas...
masihkah kau di atas sana?
untuk apa kau disana ketika manusia saja tidak memperdulikanmu?
apakah kau setulus itu,
ah aku meragukan itu,,,
Apa yang kau harapkan dari setiap cahaya yang kau berikan,
apa yang kau tunggu hingga kau setiap malam selalu di atas sana,
apa yang kau ingin manusia lakukan,
ah mereka hanya sibuk dengan bahagia mereka saja,
Tapi aku disini setia mengagumimu,
meski banyak orang menganggap ku aneh,
atau menganggapku berlebihan,
ku rasa tidak,
ku rasa mereka saja yang tidak tahu berterima kasih padamu,
Tetaplah menghiasi langit setiap malam,
tetaplah setia atas apa yang kau lakukan selama ini,
akan selalu ada kami yang bahagia atas kehadiranmu,
ya, kami,,,
kami yang seperti mu,,,
menyinari dengan cinta,,,
meski tak berbalas...
Jumat, 21 Juni 2013
Aku...
Aku sendiri tak tahu harus berapa kali bilang kamu cantik,
karna kecantikan kamu itu gak ternilai dan gak berbatas,
Aku juga gak tau kapan harus berhenti merindukanmu,
karna itulah tugasku, jika kamu juga merindukanku disana atau mengabaikan rindu ini, itu terserahmu,
Bahkan aku gak tau kapan akan berhenti mencintaimu,
karna itulah bahagia ku saat ini,
Aku ingin kau selalu di samping ku,
meskipun itu hanya sebatas khayal ku saja,
Aku percaya kau akan kembali pada ku kelak,
meskipun ketika saat itu datang, mata ku sudah tertutup dan aku gak bisa menyentuhmu, tapi melihat mu saja sudah cukup,
Aku yang akan memberi ruang khusus untukmu di hati ini,
meskipun aku tak berada di hatimu,
Aku yang menghitung detik demi detik sendiri tanpa mu,
ketika kau terlalu sibuk membahagiakan orang lain,
Aku yang terlalu sibuk mengagumimu,
ketika kau terlalu santai menikmati hari-harimu,
Cantikku,,,
karna kecantikan kamu itu gak ternilai dan gak berbatas,
Aku juga gak tau kapan harus berhenti merindukanmu,
karna itulah tugasku, jika kamu juga merindukanku disana atau mengabaikan rindu ini, itu terserahmu,
Bahkan aku gak tau kapan akan berhenti mencintaimu,
karna itulah bahagia ku saat ini,
Aku ingin kau selalu di samping ku,
meskipun itu hanya sebatas khayal ku saja,
Aku percaya kau akan kembali pada ku kelak,
meskipun ketika saat itu datang, mata ku sudah tertutup dan aku gak bisa menyentuhmu, tapi melihat mu saja sudah cukup,
Aku yang akan memberi ruang khusus untukmu di hati ini,
meskipun aku tak berada di hatimu,
Aku yang menghitung detik demi detik sendiri tanpa mu,
ketika kau terlalu sibuk membahagiakan orang lain,
Aku yang terlalu sibuk mengagumimu,
ketika kau terlalu santai menikmati hari-harimu,
Cantikku,,,
Mereka Bilang...
Mereka bilang negara kami kaya budaya,
tapi lihat generasi muda kami lebih cinta budaya luar,
Mereka bilang negara kami kaya akan SDA,
tapi lihat itu semua dikuasai oleh tangan asing,
Mereka bilang negara kami luas,
tapi lihat bagaimana pemerintah melupakan masyarakat perbatasan,
Mereka bilang generasi muda kami berpendidikan,
tapi lihat bagaimana banyak diantara mereka tak mampu bersekolah,
Mereka bilang pemerintah dan wakil rakyat ada untuk rakyat,
tapi lihat bagaimana mereka lebih mementingkan partai mereka
ketimbang 200 juta warga Indonesia,
Mereka bilang orang Indonesia memiliki talenta,
tapi lihat bagaimana PSSI lebih memilih naturalisasi pemain luar
ketimbang mengembangkan bakat pemuda Indonesia,
Mereka bilang Indonesia dari Sabang sampai Merauke,
tapi lihat hanya bagaimana Jawa menjadi segalanya,
Mereka bilang pendidikan murah di negara kami,
tapi lihat orang tua kami banting tulang untuk membiayai sekolah kami,
Mereka bilang "pilih kami karna anti korupsi",
tapi lihat bagaimana pemimpin negara kami bisa bebas korupsi dengan hukuman ringan
jika tertangkap,
Mereka bilang negara kami menghargai semua agama,
tapi lihat bagaimana disini saudara bisa saling bunuh hanya karna berbeda pandangan,
Mereka bilang negara kami adil dan beradab untuk rakyatnya,
tapi lihat hanya bagaimana orang kaya bisa mengatur hukum dan orang miskin bisa
dengan mudah dihukum,
Mereka bilang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
tapi lihat bagaimana orang kaya selalu menikmati harta negara dan
orang miskin yang kena dampak kesulitannya.
Ya, inilah negara kami, yang mereka bilang itu berbeda dengan kenyataan di lapangan....
Negara Indonesia yang kami cintai, kini engkau sangat jauh dari kami, itu semua karna kelakukan para pemimpin biadab negara kami..... Berlandaskan Politik namun lebih pantas disebut Policik. Pancasila yang hanya tinggal pajangan, Undang-Undang yang hanya sebagai buku usang di sebuah perpustakaan parlemen.
tapi lihat generasi muda kami lebih cinta budaya luar,
Mereka bilang negara kami kaya akan SDA,
tapi lihat itu semua dikuasai oleh tangan asing,
Mereka bilang negara kami luas,
tapi lihat bagaimana pemerintah melupakan masyarakat perbatasan,
Mereka bilang generasi muda kami berpendidikan,
tapi lihat bagaimana banyak diantara mereka tak mampu bersekolah,
Mereka bilang pemerintah dan wakil rakyat ada untuk rakyat,
tapi lihat bagaimana mereka lebih mementingkan partai mereka
ketimbang 200 juta warga Indonesia,
Mereka bilang orang Indonesia memiliki talenta,
tapi lihat bagaimana PSSI lebih memilih naturalisasi pemain luar
ketimbang mengembangkan bakat pemuda Indonesia,
Mereka bilang Indonesia dari Sabang sampai Merauke,
tapi lihat hanya bagaimana Jawa menjadi segalanya,
Mereka bilang pendidikan murah di negara kami,
tapi lihat orang tua kami banting tulang untuk membiayai sekolah kami,
Mereka bilang "pilih kami karna anti korupsi",
tapi lihat bagaimana pemimpin negara kami bisa bebas korupsi dengan hukuman ringan
jika tertangkap,
Mereka bilang negara kami menghargai semua agama,
tapi lihat bagaimana disini saudara bisa saling bunuh hanya karna berbeda pandangan,
Mereka bilang negara kami adil dan beradab untuk rakyatnya,
tapi lihat hanya bagaimana orang kaya bisa mengatur hukum dan orang miskin bisa
dengan mudah dihukum,
Mereka bilang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
tapi lihat bagaimana orang kaya selalu menikmati harta negara dan
orang miskin yang kena dampak kesulitannya.
Ya, inilah negara kami, yang mereka bilang itu berbeda dengan kenyataan di lapangan....
Negara Indonesia yang kami cintai, kini engkau sangat jauh dari kami, itu semua karna kelakukan para pemimpin biadab negara kami..... Berlandaskan Politik namun lebih pantas disebut Policik. Pancasila yang hanya tinggal pajangan, Undang-Undang yang hanya sebagai buku usang di sebuah perpustakaan parlemen.
Rindu
"Hari ini aku masih merindukanmu,
di dalam gelapku,
namun ku tak tau bagaimana hari esok,
jika rindu ini tak berbalas." Arief Dermawan
di dalam gelapku,
namun ku tak tau bagaimana hari esok,
jika rindu ini tak berbalas." Arief Dermawan
Surat Kaleng
Hai cantik,,,,
Bagaimana kabarmu pagi ini?
Masihkah dirimu terlelap dalam mimpimu?
Atau wangi dan cantik mu sudah menyapa dunia?
Ah, yang jelas selamat pagi selalu ku ucapkan setiap ku membuka mata
Yang jelas untaian doa selalu terselip ketika aku menghadap-Nya
Yang jelas rajutan rindu dan kasih selalu terjalin indah untukmu
Meski kamu tidak tahu apalagi untuk membalas
"karna sesungguhnya cinta ku ini bukan untuk kau balas,
aku hanya ingin kau tahu seberapa besar cinta ini,
lalu kembali pada ku ketika kau sadar bahwa gak ada lain
yang mampu seperti ini
dan aku....
aku selalu menunggumu" - Arief Dermawan
Bagaimana kabarmu pagi ini?
Masihkah dirimu terlelap dalam mimpimu?
Atau wangi dan cantik mu sudah menyapa dunia?
Ah, yang jelas selamat pagi selalu ku ucapkan setiap ku membuka mata
Yang jelas untaian doa selalu terselip ketika aku menghadap-Nya
Yang jelas rajutan rindu dan kasih selalu terjalin indah untukmu
Meski kamu tidak tahu apalagi untuk membalas
"karna sesungguhnya cinta ku ini bukan untuk kau balas,
aku hanya ingin kau tahu seberapa besar cinta ini,
lalu kembali pada ku ketika kau sadar bahwa gak ada lain
yang mampu seperti ini
dan aku....
aku selalu menunggumu" - Arief Dermawan
Kamis, 20 Juni 2013
Perjuangan, Persahabatan, dan Lembar Baru
Dalam
hidup, pengalaman akan selalu sangat berguna agar kita dapat belajar dan
menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman juga diperlukan
dalam proses kita untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidang tertentu,
termasuk untuk menjadi guru. Untuk menjadi guru sesungguhnya, mahasiswa yang
mengambil studi khusus untuk menjadi guru pasti akan melewati suatu masa yang
disebut PPL atau Program Pengalaman Lapangan.
Dalam masa itu, seorang mahasiswa yang tadinya selalu menjadi “Si
Pendengar” dalam proses pembelajaran di kampus. Tapi kali ini kami harus
menjadi “Si Penceramah” di depan anak-anak murid, baik itu SD, SMP, ataupun
SMA.
Tapi
tulisan ini gak membahas tentang istilah PPL sampai keakar-akarnya kok, tulisan
ini bercerita tentang pengalaman saya selama PPL. PPL, iya PPL, mungkin bagi
saya PPL itu lebih pantas memiliki kepanjangan Perjuangan, Persahabatan, dan
Lembar Baru. Ya, soalnya tiga hal ini adalah hal yang saya rasakan selama PPL.
Namun, dibalik tiga hal itu tetap ada “pengalaman” sebagai hal utamanya.
Baiklah,
kita membahas Perjuangan terlebih dahulu. Selama PPL jelas sangat banyak
perjuangan yang tercipta, baik itu perjuangan lahir maupun batin, baik itu raga
maupun perasaan dan pikiran. Mungkin hari dimana saya tulis cerita ini adalah
hari yang saya tunggu-tunggu waktu tiga bulan lalu. Hari yang saya sendiri gak
tau bagaimana kejadiannya, akan cerah ataukah badai. Memang sih sekarang cuaca
lagi badai, tapi untuk hasil kinerja selama PPL cerah kok. Hari ini sudah
terlewati selama 100 hari itu. Ya, kami PPL selama lebih kurang 100 hari.
Bicara perjuangan, tentunya sangat banyak perjuangan, yang tadinya gak tau apa
itu Prota, Promes, Minggu Efektif, tapi mau gak mau harus buat dan belajar membuatnya,
mencari contoh lalu copas itu termasuk perjuangan juga lho ya. Belum lagi
perjuangan capeknya, yang dulunya jam 9 pagi baru terkumpul nyawa didalam
tubuh, sekarang mau gak mau jam 7 pagi harus sudah menyusuri jalan ibukota
provinsi ini. Pokoknya kalau bicara perjuangan dari A-Z, saya bisa langsung
buat satu novel.
Yang
kedua Persahabatan, dalam hidup kita memang harus dan wajib untuk selalu
mengenal orang-orang baru dan belajar dari mereka. Dan selama PPL, saya
bertemulah dengan 14 orang baru, oh gak, 13 orang baru, 1 orang sih sudah kenal
dari awal kuliah. Baru kenal dan tiap hari bertemu, kecuali hari minggu dan
libur. Tumbuhlah rasa persahabatan dan seperti keluarga. Gak mau berpisah,
namun masing-masing harus kembali ke jurusan masing-masing untuk menyelesaikan
studinya. Tapi, setahu saya persahabatan itu gak mengenal kata akhir, jadi
persahabatan ini akan terjalin selamanya, ya selamanya jika semua saling
menjaga. Menjaga perasaan dengan mengerti setiap orang itu berbeda, kita gak
mungkin membuat sahabat kita seperti kita, tapi kita bisa membuat pikiran kita
dapat melihat suatu aspek lebih luas. Ya, saya harap saya masih bisa bercerita
pada anak saya kelak nanti tentang bagaimana hebatnya jalinan persahabatan yang
pernah terjalin saat saya PPL.
Selanjutnya
kita membahas soal “Lembar Baru”. Apa sih lembar baru? Dalam hidup kita memang
memiliki lembaran-lembaran cerita tentang masa lalu kita, ada yang hitam,
putih, dan penuh warna. Ketika awal PPL, saya masih shock dengan atmosfer
sekolah yang sangat asing bagi saya, pakai celana kain setiap hari yang sangat
jarang saya lakukan selama kuliah, bangun pagi-pagi dan langsung menempuh
perjalanan 20 menit. Maka dari itulah saya membuka lembar baru yang saya sebut “PPL”.
Disana telah tercoret banyak kisah dengan banyak warna, ada hitam, putih, biru,
kuning, dan lain-lain, serta merah muda. Yang jelas selalu ada lembaran khusus
yang terbingkai manis untuk kisah selama PPL ini, dengan nama-nama sahabat saya
di bawahnya. Semoga setelah kita lewati ini, kita gak saling melupakan, gak
saling memusuhi, gak saling membenci atau bahkan membangun tembok pembatas
diantara kita. Sudah saatnya kita berlapang dada dan berjiwa besar untuk saling
memaafkan dan menjalin silahturahmi selamanya, iya selamanya...
Jadi,
itulah singkat cerita tentang PPL, kita gak perlu terlalu serius untuk membahas
satu istilah lalu mencarinya di buku atau Wikipedia, kita cukup merasakan apa
yang kita rasakan lalu tulis dalam sebuah cerita, semoga menarik dan menjadi
pembelajaran untuk kita semua. Bye.
Langganan:
Postingan (Atom)