Melati pagi itu seperti biasa bersiap ke kampus. Hari senin dengan semangat pas-pasan, Melati dapat jadwal konsultasi skripsinya ke pembimbing. Mau gimana lagi, harus dijalanin hari senin itu.
"Siapa lagi sih ini yang taruk mawar pagi-pagi gini." Melati pagi-pagi sudah dibuat menggerutu.
Sudah beberapa hari ini Melati dapat kiriman bunga dari orang misterius. Melati gak tau siapa yang ngirim, makin lama makin nyeremin. Takut seorang psikopat dan berniat jahat. Meski bernama Melati, Melati sangat suka dengan mawar. Tapi kalau sudah berlebihan gini, rasanya semua orang juga akan paranoid.
Melati yang sudah di ujung semester itu harus buru-buru jumpain dosennya kalau gak mau berakhir D.O. Bunga mawar misterius tadi diletakkan di garasi bersama mawar-mawar lainnya.
Melati pergi ke kampus sendiri. Kebetulan dia saat itu memang lagi sendiri, baru putus sama mantannya bulan lalu. Bimo, mantan melati, katanya harus pindah ke kota lain, dan akan dijodohkan disana dengan anak teman papanya. Melati tak ayal lagi marah dan kecewa luar biasa. Sejuta kebencian mungkin dia simpan untuk Bimo.
"Maaf Mel, aku harus pergi ke kota lain, dan akan memulai hidup baru disana. Kamu lebih baik juga mulai hidup baru kamu disini."
"Apa Bim? Semudah itu kamu bicara setelah semua yang kita lalui?"
"Sekali lagi maaf Mel. Kita harus mulai hidup baru kita masing-masing."
"Terserah kamu deh Bim. Kenapa juga Tuhan temuin aku sama kamu kalau harus berakhir kayak gini?"
Semua orang rasanya setuju bahwa yang paling nyakitin adalah harus pisah di saat lagi sayang-sayangnya, di saat semua baik-baik aja.
**--**
Alarm handhone membangunkan Melati pagi itu. Bersama banyak pesan masuk berisikan ucapan selamat ulang tahun. Melati dengan antusias membaca satu per satu pesan masuk itu. Bermacam-macam pesan masuk dengan beragam kalimat dan juga beragam pengirim. Dari keluarga, saudara jauh, sampai teman. Tidak ada Bimo. Hati kecil Melati masih sangat mengharapkan ucapan Bimo yang memang pintar merangkai kata.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Melati bersiap ke perpustakaan kota mencari inspirasi untuk bahan skripsinya setelah mendapat banyak revisi dari dosennya kemarin. Meski hari ini hari ulang tahunnya, tapi skripsi tetaplah skripsi, ia tak mengenal dispensasi.
**--**
Handphone Melati mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Ya halo."
"Ya, Melati?"
"Ya, ini siapa?"
"Ini aku Anton, teman kampus Bimo. Sorry baru ngabarin, soalnya kemarin ribet banget dan aku juga lumayan shock. Bimo udah gak ada Mel. Aku dikabarin keluarganya di kampung. Kataya Bimo udah sebulanan ini bermasalah dengan lambungnya. Asam lambungnya naik terus. Sampe 3 hari yang lalu lambungnya bocor dan Bimo gak bisa bertahan. Halo Mel, masih disitu?"
Melati gak berkata apapun lagi. Seperti ada pisau yang menghujam jantungnya sangat dalam.
Keesokan harinya Melati mendatangi rumah Bimo di kampung. Bersilahturahmi dengan keluarganya.
"Nak Melati..." Ibu Bimo membuka percakapan.
"Bimo banyak cerita tentang kamu disini. Kata dia, kamu adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Bimo sebelum pergi berpesan agar diletakkan setangkai mawar di makamnya. Dan juga memberikan surat ini agar disampaikan ke kamu."
"Hai Melati... Melati penyuka mawar. Kamu memang unik. Kamu adalah hal terindah yang pernah aku lihat. Aku sangat berharap kamu sudah memulai hidup baru kamu. Tanpa aku. Aku juga sudah memulai hidup baru aku, di tempat baru. Aku akan tetap memperhatikan kamu dari jauh, dari langit sana. Kalau kamu rindu aku, lihat lah ke langit. Aku mungkin adalah salah satu dari ribuan bintang. Oh ya, kamu sudah terima 23 mawar yang aku kirim? Selamat ulang tahun yang ke 24. Mawar yang ke 24 aku mau kasih langsung ke kamu. Tapi aku gak punya waktu lagi. Aku keburu di D.O. Tapi aku udah siapin mawar terakhir kok. Kamu bisa ambil sendiri di rumah baru aku. Ada setangkai mawar tertancap disana. Itu milik kamu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar