Selasa, 29 Maret 2016

Ironi Anak Perempuan Penjaja Parkir

Dari sebuah sudut jalanan pusat kota,
Ramai-ramai kendaraan lalu lalang,
Dari mobil mewah,
Sampai sepeda sederhana,

Lampu kota yang semakin menyala,
Keramaian yang kian bergelora.
Tak menggoyangkan kaki seorang anak perempuan,
Dari tempatnya berdiri di depan pertokoan,

Seorang anak perempuan tampak lelah,
Berbadan kurus dan kurang terurus,
Sama sekali tak ada senyum tersingkap di bibirnya,
Hanya sendirian tak ada yang menemani,

Tetap memegang lembaran-lembaran kardus,
Menunggu dengan setia setiap kendaraan yang mampir kepadanya,
Agar mampir pula lah selembar uang ke kantongnya,
Malam anak perempuan si penjaja parkir masih sangat panjang,
Terlalu panjang bagi anak seumurnya,

Maka banyak pertanyaan muncul ke permukaan,
Apakah ia tak tidur sedangkan hari mulai larut,
Apakah ia tak beristirahat sedangkan esok pagi waktu untuk
anak-anak sebayanya bersekolah,
Dan orang tua seperti apa yang memiliki hati sebaja itu
membiarkan anaknya bekerja larut malam hingga untuk tersenyum pun tak mampu.

Rabu, 23 Maret 2016

Surat Untuk Ayah

Surat untuk ayah,
Dari seorang anak lelakinya,
Yang masih belum membuatnya bangga,
Yang masih jauh dari harapan,

Sebuah permintaan maaf,
Atas segala kekurangan,
Atas semua kesalahan,
Atas seluruh ketidakmampuan,

Bahkan untuk mendekati standar terendahnya pun
aku tak mampu,
Apalagi menjadi seperti dirinya,
Atau setidaknya seperti yang ia mau,
Ya aku tak mampu,

Menjadi diri sendiri,
Yang ia tak suka,
Menjalani pilihan sendiri,
Yang ia tak setuju.

Selasa, 23 Februari 2016

Perhatikan Kehidupan Bermasyarakat Kita

Dalam hidup hampir setiap hal itu diciptakan berpasangan, ada hitam dan putih, ada kanan dan kiri, ada horizontal dan vertikal. Yang terakhir itu menarik kita cermati, kok horizontal dan vertikal? Ada apa? Horizontal yang artinya garis lurus ke samping dan vertikal yang artinya garis lurus tegak ke atas. Horizontal juga sering dipakai untuk mengartikan urusan dengan sesama manusia atau disebut hablumminnas dan vertikal dipakai untuk mengartikan urusan dengan Allah SWT atau disebut hablumminallah. Islam mengajarkan dua hal tersebut adalah hal yang penting untuk mendapat ridho-Nya sekaligus surga-Nya kelak.
Loh kan masuk surga itu ya tinggal urusan aja sama Allah, ngapain ngurusin manusia. Beberapa orang berpendapat seperti itu, sehingga ia hanya akan mengejar ibadah vertikal lalu melupakan kehidupan bermasasyarakatnya. Ketahuilah dalam Al-Quran sendiri berkali-kali Allah mengatakan soal pentingnya hablumminnas. Bahkan sesama orang beriman pun diperintahkan untuk saling mendoakan.
Ada suatu tempat di alam akhirat nanti sebelum masuk pintu surga, disana adalah tempat dimana para malaikat menanyakan hal-hal urusan duniawi yang menyangkut dengan manusia lain. Beberapa orang bahkan sudah cukup amal hablumminallah dan ia tinggal masuk ke surga saja. Namun ternyata banyak catatan-catatan dengan manusia lain seperti berhutang dan lain-lain. Akhirnya pun pahalanya terkuras sedikit demi sedikit dan gagal masuk pintu surga, Sebegitu pentingnya lah kita juga harus memperhatikan kehidupan bermasyarakat kita. Jangan kita berpikir bahwa masuk surga hanya perlu fokus ke hablumminallah saja.

Minggu, 21 Februari 2016

Meneladani KIsah Am dan I

Di dunia kita ini ada pria dan wanita. Sama juga seperti di dunia grammaritos, disana juga ada pria dan wanita. Pria berpasangan dengan wanita begitu juga sebaliknya. Lucunya disana hanya ada tiga orang pria dan lebih banyak wanita. Nama-nama pria tersebut ialah Am, Is, dan Are. Wanita disana cukup banyak, untuk kelompok bangsawan saja ada nama-nama seperti I, You, We, They, He, She, dan It. Belum lagi rakyat-rakyat biasa seperti kaum singular dan plural.
Suatu ketika mereka sadar harus ada keturunan di kerajaan mereka, maka mereka memutuskan tiga orang pria tadi harus siap menikahi dan berpoligami dengan wanita-wanita di kerajaan tersebut. Am, Is, dan Are pun menyetujui dan mereka mulai mencari dan memilah siapa-siapa saja yang bisa mereka nikahi.
Sampai di suatu ketika Am bertemu dengan I, gadis bangsawan yang memiliki hobi mengurus bunga-bunga yang ia tanam. Am jatuh hati pada I, begitu pula I. Di tempat lain, Is dan Are sudah mendapatkan banyak calon istri, sedangkan Am masih menghabiskan waktu bersama I. Sampai akhirnya mereka menikah dan Am tidak sanggup dan tidak tega untuk menikahi wanita lain lagi selain I. Berbeda dengan Is dan Are yang masih bersemangat untuk mencari istri.
Meski awalnya menimbulkan banyak pertentangan, karena sedikitnya jumlah pria, mereka bertiga diharapkan bisa menikahi wanita lebih dari satu, namun Am masih terus menolak. Akhirnya orang-orang pun luluh melihat ketulusan cinta keduanya, mereka mengizinkan lagipula Is dan Are masih mau berpoligami.
Akhirnya Am dan I hidup bahagia berdua selamanya. Sedangkan Is menikahi wanita-wanita bernama She, He, It, dan wanita-wanita dari kaum singular, ia juga hidup bahagia. Dan Are menikahi wanita-wanita bernama You, We, They, dan wanita-wanita dari kaum plural. Semuanya bahagia, hidup sejahtera. Namun di kehidupan sekarang yang pria dan wanita relatif seimbang jumlahnya, kita ada baiknya meneladani sikap Am yang memilih hanya satu wanita saja.

Jumat, 06 November 2015

Keindahan Tersembunyi

Seperti seorang petualang,
Menjelajah tempat-tempat baru,
Atau seperti anak kost,
Berpindah-pindah kamar kost,

Tapi kali ini aku menemukan keindahan yang berbeda,
Keindahan yang bahkan ia sendiri tak tau,
Sulit dijelaskan,
Bahkan seperti tak berkesan,

Tapi ini sesuatu yang berbeda,
Dulu aku singgah sebagai pelancong,
Tapi kali ini aku ingin tinggal dan hidup disini,
Bukan selayaknya anak-anak yang ingin terus mencari,
Tapi aku ingin selayaknya orang dewasa,
Tinggal untuk hidup,

Ada moment ketika kita semakin banyak berjalan,
Maka kita akan semakin mengerti,
Ada banyak hal yang gak bisa diungkapkan,
Tapi pasti bisa dibuktikan,
Dengan tidak kemana-mana,
Nikmati saja waktu yang berganti.

Kunang-Kunang Dalam Pelukan

Terjaga di gelap malam,
Sunyi hanya ada suara semilir angin,
Dingin yang menusuk ke kulit,
Gelap pun kian pekat,

Dari kejauhan muncul setitik cahaya,
Tak begitu terang,
Tapi sangat jelas di dalam kegelapan malam,
Ternyata kunang-kunang,

Ia terbang kesana kemari,
Seperti kembang api yang gak ada matinya,
Ia hinggap,
Aku bagai memeluknya,

Terasa sangat spesial,
Ada serangga tapi bisa bercahaya,
Meski tak seterang gemerlapnya lampu kota,
Tapi ia mengajarkan tentang kesederhanaan,

Mungkin kita merasa belum berguna untuk siapa-siapa,
Jangan berhenti untuk bersinar,
Meski tak begitu terang,
Tapi pasti dan akan,
Cahaya kita itu berguna untuk orang lain.

Rabu, 23 September 2015

Bercumbu Dengan Senja

Di sebuah sudut senja,
Seorang pria masih duduk diam tanpa suara,
Hanya menggenggam sebuah buku,
Tampak serius mendalami isinya,
Sesekali meneguk segelas kopi di sampingnya,
Sudah tak ada asap mengepul,

Di sudut senja lainnya,
Ada sekolompok orang menghabiskan waktu bersama orang terdekat,
Banyak kalimat yang terucap,
Sesekali tawa yang keluar seakan memecah keheningan,

Di sudut senja yang berbeda,
Sudut yang agak gelap,
Tampak beberapa anak kecil juga dengan tawa yang khas,
Tawa yang diikuti dengan belur keringat jatuh di pipi,
Sesekali ada senyum yang tersimpul di wajah lelah itu,
Kebahagiaan meski kaki mereka pastinya lelah,
Membawa kacang dan kerupuk yang terbungkus untuk dijual,

Di sudut senja terakhir,
Tentu ada aku yang sedari tadi memperhatikan orang-orang,
Yang juga tentu sedang bercumbu dengan senja,
Seperti orang-orang meski caranya berbeda-beda,

Senja selalu memberikan keindahan,
Yang rasanya sulit ditolak untuk mencumbuinya,
Atau hanya sekedar menikmati,
Senja akan selalu begitu,
Kalem, pemberi ketenangan, dan tentu indah.