Minggu, 19 Juni 2016

Hilang

Aku tak berharap lebih lagi darimu
Biarlah rindu ini ku simpan
Terminum dalam segelas kopi
Sepahit rasa rindu ini

Kau memang seperti hujan
Datang tak pernah ku perkirakan
Namun kau entah dimana
Di kala aku rindu kau

Rindu ini biar ku telan saja
Masuk ke dalam hati terdalam
Hanya bertemankan sepi
Berselimut gelap.

Minggu, 12 Juni 2016

Macam-Macam Orang di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan akhirnya datang juga. Bulan dimana semua orang Islam dan beriman diwajibkan berpuasa. Ingat, Islam dan beriman. Kalau salah satu saja atau tidak keduanya, kamu tidak diwajibkan berpuasa. Macam-macam orang dalam mengisi bulan Ramadan. Setidaknya sampai hari ke 7 ini ada beberapa macam. Aku disini tidak untuk menghakimi mana benar dan mana salah. Hanya mengurai.

1. Perbanyak ibadah
Ada orang-orang di bulan Ramadan jadi rajin ibadah, itu karena di bulan Ramadan kan pahala ibadah kita dilipat-gandakan. Jadi kita kayak dapat bonus gitu sebulan, makanya banyak orang yang banyak-banyakin ibadah terus.

2. Kesempatan pulang pagi
Banyak juga orang yang jadi kesempatan bisa pulang telat, telatnya sampai mau subuh. Biar dikira tadarus mungkin, padahal buat keributan di depan rumah orang, main petasan, di warnet, atau di warkop.

3. Jadi repot
Ini ibu-ibu sih biasanya ya, bawaannya masak aja. Pokoknya apa-apa dimasak, gak tau apa kalau harum masakannya itu menggoda orang puasa.

4. Jadi lemas
Siang-siang kan lemas ya apalagi panas, terus bawaannya malas. Mau apa-apa malas, maunya tiduran aja sampai maghrib.

5. Jadi bingung
Puasa kok bingung. Bukan bingung puasanya. Cuma bingung apa-apa jadi mahal, tapi kebutuhan banyak. Belum lagi baju baru anak. Jadinya kan puasanya gak khusyuk.

6. Banyak job
Ustadz-ustadz biasa jadi banyak job ya bulan puasa gini. Di Masjid ceramah, di TV ceramah, di rumah ceramah, dimana-mana ceramah. Bukan ustadz aja sih banyak job, pelawak juga ya. Minimal pelawak dadakan lah.

7. Biasa aja
Mau puasa mau gak puasa sih biasa aja. Hidup juga gini2 aja, gak puasa juga siang jarang makan. Gak puasa juga bawaan tidur aja.

8. Banyak ngeluh
Apa-apa ngeluh, lapar ngeluh, haus ngeluh, ada yang buat emosi terus ngeluh. Ngeluhnya dimana? Di sosmed.

9. Banyak pamer
Semua dipamerin lah pokoknya. Makanan buka puasa difoto terus dipamerin di sosmed. Ngaji dipamerin. Tarawih dipamerin.

10. Langganan main ke warung
Siang-siang ke warungnya? Iya. Ngapain? Main-main aja mungkin. Loh kok ambil rokok, a*ua, sama in*omie? Untuk buka puasa mungkin. Loh kan masih jam 11 siang? Iya prepare aja.

11. Gak ada kerjaan
Puasa gak ada kerjaan, mau tidur juga gak bisa. Terakhir, kerjain yang aneh-aneh. Misal nulis-nulis di blog gak jelas.

Nah itu dia macam-macam orang di bulan Ramadan. Tidak untuk men-judge benar salah, cuma untuk mengabarkan. Hehe. See you. Selamat menunaikan ibadah puasa. Ingat, yang benar puasanya. Jangan kumur-kumur pake es cendol.

Konten Nomor 2

Kita sering kali cenderung percaya sama orang cuma berdasarkan penampilan orang tersebut gak sih? Kalau aku lihat sih gitu, kita jarang melihat konten dari ucapan seseorang ke kita. Misalnya, kita antusias dengar perkataan seseorang yang pakai jubah dan kopiah gak pernah lepas tentang ilmu agama. Tapi kita malas dengar apalagi percaya sama ucapan seseorang yang penampilannya sih biasa aja, kayak kita juga, yang ngomong tentang ilmu agama. Padahal bisa jadi konten yang dibicarain lebih bermutu dari si yang biasa aja itu. Padahal ilmu agama itu dasarnya Al-Qur'an dan Hadist bukan? Apapun yang dibicarakan, selama itu ter-refer ke dua sumber tersebut, kita patut mempertimbangkan kebenarannya. Kalau kita pindah ke bidang lain, misal pendidikan, kita lebih percaya sama orang yang mungkin sudah S3 daripada sama orang yang hanya tamat SMA dan belajar otodidak saja. Tapi bagaimanpun juga, budaya di kita memang seperti itu, buktinya di sini ijazah lebih diakui daripada skill kan. Kita lihat buku aja bukan dari sampulnya lagi, tapi dari penulisnya, siapa yang nulis, kita kenal dan kita yakin baru kita mau baca bukunya. Kita gak peduli lagi isi buku tersebut.

Jumat, 03 Juni 2016

Percakapan Ibu dan Anak

Ibu... Langit sedang menangis
Tidak nak, itu hujan
Oh lalu mengapa mata ibu juga hujan
Iya nak, memang mata ibu sedang ingin hujan

Ibu... Langitnya marah-marah
Tidak nak, itu petir
Oh petir yang sering bapak keluarkan ya buk
Iya nak, petir tidak selalu keluar di langit

Ibu... Hujan telah reda dan ada pelangi
Iya nak, pelangi itu seperti kamu
Mengapa aku buk?
Iya karena kamu adalah pelangi yang menyeka hujan di mata ibu, nak.

Kamis, 02 Juni 2016

Sepotong Senja

Sepotong senja yang damai
Selalu ingin ku bagi
Pada kau si buah hati
Penikmat senja sejati

Sepotong senja yang hangat
Berdua dalam dekapan
Meski hujan turun rerintikan
Bersama menyambut malam

Sepotong senja yang terindukan
Potongan senja lain pasti datang
Mungkin caranya sama
Tapi rasanya beda.

Kamis, 26 Mei 2016

Kakek Tukang Potret Keliling

Kita berada di zaman modern yang segalanya sangat mudah. Mau apa ada, perlu apa gampang dicari. Sangat mudah. Sangat mudah bahkan untuk anak-anak yang belum bisa memilah informasi. Terlepas dari itu, kembali lagi bahwa teknologi sangat membantu manusia. Tidak, tidak semua orang mensyukuri hal ini. Setidaknya sampai tadi siang saya melihat seorang kakek tua yang lumayan terkenal di zaman dulu sebagai tukang potret keliling di sebuah tempat wisata. Saya teringat kakek itu karena cukup familiar bagi saya di masa kecil saya. Ternyata dia masih ada dan eksis. Ya cuma itu, tidak lebih. Penghasilannya tidak lagi sama, pelanggannya juga tidak lagi banyak, peluang baginya juga tidak lagi besar. Tampak tidak bahagia, kadang menyendiri di sudut memikirkan sesuatu. Teknologi yang semakin berkembang ini sangat menolong manusia, kebanyakan, tidak semuanya, termasuk kakek ini. Keputusan dia datang mencari rejeki juga rasanya sangat luar biasa, pasti dia memiliki harapan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan diam bagi siapa-siapa yang mau berusaha. Ya Allah, lancarkanlah rejeki beliau, meski datang tidak dari profesinya sebagai tukang potret keliling.

Rabu, 25 Mei 2016

Cuaca Sore Ini Manja

Cuaca sore ini manja
Semanja kopi hitam hangat
Menyentuh bibir perlahan
Dengan rasa khas pahitnya

Cuaca sore ini manja
Semanja kata-kata selamat malam
Meski hanya dari layar telepon genggam
Namun melekat di ingatan

Iya cuaca sore ini manja
Langitnya gelap
Rintik-rintik hujan
Dan dinginnya membuat kita ingin saling bermanja berdua.