"Kita akan terus bareng kan, Yang?"
"Pasti,,, aku janji."
Pernah lo berada di moment dimana lo merasa hidup lo begitu nyaman? Nah benar, sering kali kita merasa nyaman ketika kita bersama orang yang bisa buat kita nyaman. Dengan segala kemampuan dan keindahan yang dia miliki, gue ngerasa hidup gue udah sempurna. Hidup memang seperti itu, cinta adalah bagian dari kehidupan, seperti puzzle, saling melengkapi, maka ketika lo nemuin cinta yang tepat, bagian yang tadinya kosong itu pun menjadi utuh. Setidaknya sementara.
Lho, kenapa bisa gue bilang sementara? Gini, cinta sering kali jatuh tanpa sempat hati untuk memilih, kan? Ketika lo jatuh cinta, apapun terasa sempurna. Termasuk hidup. Lalu, apakah sudah cinta pada orang yang tepat? Oke, gue ceritain kisah yang satu ini dulu.
Ada satu masa ketika gue masih kuliah, gue kenalan dengan seorang cewek. Namanya Sarah. Ah sudah, sebut aja gitu namanya. Lagi dan seperti cerita yang lain, Sarah ini adik angkatan gue di kampus. Sarah ini tipe gue banget, dengan penampilan yang bisa dibilang diatas "tuntas nasional" dan sikap manjanya yang selalu buat rindu. Ketemunya juga lucu, waktu itu dia lagi duduk di kantin, makan es krim, sesekali tertangkap lagi ngupil, terkadang rapiin poni, terus upil tadi lengket di rambut. Aduh apaan sih ini, tapi entah kenapa, ya unyu aja gitu. Terus dengan gaya cool gue samperin lah dia, secara gue senior.
"Hey anak kampus sini juga", gue sapa.
"Iya bang, kok tau?", tanyanya.
"Tau donk, tandai kamu itu mudah banget lagi, seperti diantara ribuan bintang, kamu yang paling terang, di hati aku...", eh gue gombal.
Dia terdiam sesaat, cuma terperangah, mulut terbuka terus masuk lalat, gak lama mimisan. Kemudian baru tersenyum.
"Ah abang bisa aja,".
"Hehe, Sarah ya? Kenalin, aku Arif".
"Iya bang, senang bisa kenalan dengan abang".
Setelah banyak ngobrol dan membombardir dia dengan banyak gombalan maut, akhirnya kami pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Gak lama, henpon gue bunyi tanda masuk pesan. Wah ternyata dari Sarah.
"Hai abang, siang..."
"Eh iya Sarah, hai juga. Kamu udah di rumah?"
"Udah donk, abang udah di rumah juga kan?"
"Gak, aku kan di hati kamu, hehe."
"Ah bisa aja"
"Eh ngomong-ngomong, dapat nomor aku dari mana ya?"
"Ada deh,,, yang penting kan udah dapat, hehe."
"Hemm, iya deh..."
Sejak hari itu kami jadi sering saling kirim pesan, ngobrol via sms terkadang telfonan. Hari-hari terasa indah aja gitu. Dan juga sepertinya Sarah juga udah kena gombalan maut gue.
Proses PDKT kami terasa sangat mudah, segalanya berjalan lancar tanpa hambatan, gak kayak jalanan ibukota yang macet setiap harinya. Singkat cerita, kami PDKT selama 2 bulan terus gue tembak dia.
"Kita udah dekat selama 2 bulan, aku rasa cukup lah untuk mengenal kamu.", aku mulai pembicaraan.
"Lah terus?"
"Terus kamu mau gak jadi pacar aku? Yang temani hidup aku, jalani hari bersama."
"Gak ada satu alasan pun bagiku untuk menolak kamu, cintaku...", tutupnya dengan simpul senyum termanis.
Setelah hari itu, kami pun menjalani hidup berdua, Kemana-mana berdua. Buat tugas, refreshing, pergi kuliah, olahraga juga berdua. Hidup terasa indah setiap harinya. Lengkap, pikirku saat itu.
"Kita akan selalu bareng kan, Yang?"
"Pasti,,, aku janji, aku gak bisa hidup tanpa kamu".
"Aku juga, love you".
"Love you too"
Ahh, ini antara so sweet atau memuakkan sih. Tapi kalo lo berada di posisi itu, apapun itu terasa manis. Menganggap dia lah cinta sejati kita. Dan cinta memang selalu dapat mengubah segalanya, Termasuk mengubah diri lo.
Awalnya Sarah bilang gue cuek, gue suka pergi gak bilang-bilang, dia maunya kalo gue pergi harus bilang dulu. Gue boker juga bilang, semua-semua lapor. Ya namanya juga cinta, meski awalnya agak aneh, tapi lama-lama nurut juga. Banyak yang berubah karena cinta. Kita juga pelan-pelan akan kehilangan jati diri karena cinta, Tapi gue pikir, dengan gue berubah kami akan selalu sama-sama terus.
Tapi itu semua salah. Sepenuhnya salah. Kenapa gue bilang salah? Karena logisnya, dengan diri gue yang dulu aja sebenarnya Sarah jatuh cinta, terus kenapa dia minta gue berubah dan kenapa gue mau berubah. Bukannya ketika kita bisa cinta sama seseorang, kita harusnya udah tau kelebihan dan kekurangan dia. Dan sudah jadi pertimbangan kita.
Dan itu terbukti ketika gue dan Sarah terus sama-sama dan masuk dimana salah satu atau keduanya merasa bosan. Kayak lo berpuluh tahun makan nasi, tapi seminggu lo gak boleh makan nasi diganti makan gandum. Sulit kan menerima? Begitulah gue sulit menerima, gue jadi gak tau harus gimana, kami benar-benar gak siap untuk masuk di situasi ini, kami terlalu terlena dengan segala keindahan yang disuguhkan oleh cinta. Padahal cinta layaknya hidup memiliki dua sisi yang berbeda, sisi hitam dan sisi putih.
Yang tadinya kami gak pernah ribut, untuk ini kami ribut, hanya karena salah satu merasa bosan dan satu lagi maunya kayak biasa, bareng terus. Kami benar-benar gak siap untuk ini, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.
Terus hidup gue? Hidup gue ya terasa hampa, benar-benar kehilangan. Rasa gengsi untuk meminta kembali, membuat kami semakin jauh dan akhirnya hilang kontak. Gue benar-benar gak tau harus berbuat apa waktu itu. Tapi terus gue mikir, bukannya setiap manusia hanya bisa berencana, dan Allah lah yang menuntun jalan hidup kita. Meskipun kita punya 1000 rencana kedepan, kalo bukan jalan hidup kita, ya kita hanya bisa menerima dengan ikhlas. Tapi percayalah, jalan hidup yang Allah berikan pasti yang terbaik untuk kita. Gue juga petik pelajaran dari ini, selama hal itu baik, kita gak harus berubah atau mengubah pasangan kita karena cinta. Maka, kita harus saling kenal dulu sebelum menjalin hubungan, mengenal setiap sifat, sikap, tingkah laku, dan kepribadiannya. Tapi kolo hal-hal yang buruk, misalnya hobi selingkuh, itu harus berubah lah.
Dan soal cinta sejati, cinta sejati akan datang pada setiap manusia. Sudah ditakdirkan. Kita hanya harus tetap berikhitiar. Soal siapa dan kapan, biarlah itu menjadi rahasia-Nya dan misteri kehidupan.
Udah ya, sampe sini aja, see you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar