Sabtu, 03 September 2016

Sejak Kau Pergi Kemarin

Kota ini sepi rasanya.
Orang-orang tampak tak bersemangat.
Riuh itu menghilang.
Sejak kau pergi kemarin.

Kota ini diselimuti awan mendung.
Gelap jauh dari sinar matahari.
Matahari pun nampak murung.
Katanya karena kau tak ganggu dia lagi.
Sejak kau pergi kemarin.

Lantas aku?
Kau tanya tentang aku?
Ku pikir tidak.
Tapi anggaplah iya.
Aku tak banyak berubah.
Masih menulis tentang kau.
Sejak kau pergi kemarin.

Kau...

Aku belum pernah lihat mata secerah itu.
Dua pasang bola mata itu menatapku sangat tajam.
Aku terkagum.
Seperti aku lihat hamparan ombak pantai.

Aku ingin miliki sepasang mata itu.
Bukan untuk ku pakai.
Tapi untuk ke tatap.
Sebelum ku tidur.
Ataupun setelah ku bangun.

Izinkan aku memilikinya.
Sepaket dengan kau juga.
Kalau matanya saja indah.
Tentu pemiliknya jauh lebih indah.

Aku ingin ajak kau ke tempat paling romantis.
Dimana? Paris?
Aku kemana aja, asal sama kau.
Tapi jangan jauh-jauh, aku mabuk udara.

Jumat, 02 September 2016

"Sebelum aku mati di kehidupanku yang lama, aku sangat sedih dan takut. Kini, aku dihidupkan kembali dengan bentuk yang baru. Aku lebih bisa melihat senyuman dan air mata bahagia manusia lebih dekat. Siapapun, terima kasih telah membuat kematianku tidak sia-sia." Lembaran  kertas dalam buku yang terdapat stempel pustaka.

"Lucunya, aku bisa-bisanya selalu rindu kau. Padahal kau juga bisa-bisanya dengan gampang ninggalin aku." Pohon kelapa pada angin laut.

"Tak perlu kau selalu mencintaiku, cukup kau selalu ada di bumi. Cukup bagiku." Dilan, 1991.

"Aku tak berharap kau baca semua tulisanku, tapi cobalah kau dengar suara hatiku." Seseorang dengan kopinya.

"Aku ingin menjadi sebuah gelembung. Elastis. Agar kau bisa masuk di dalamnya, ku dekap, dan tak bisa pergi lagi.", Seseorang dari dalam gua.