Senin, 12 Mei 2014

Apa Itu Mimpi

Mimpi itu seperti pelangi,
Indah dan penuh warna,
Meski harus keluar setelah hujan badai,
Namun ia menjadi jawaban setelahnya,

Mimpi itu seperti kupu-kupu,
Menghiasi langit dengan sayap indahnya,
Tapi lihat sebelumnya,
Ia adalah ulat yang kemudian menjadi kepompong,

Dan mimpi itu seperti harta karun yang tersembunyi di dalam gua,
Butuh perjuangan untuk mencapainya,
Tak mudah,
Tapi dengan usaha semuanya menjadi mungkin,

Maka apa itu mimpi,
Mungkin mimpi itu sesuatu yang indah,
Ya indah di ujung,
Tapi lihat proses menggapainya,
Tak selalu indah bukan?

Tapi percayalah,
Percaya pada mimpi kita,
Dengan usaha berhiaskan doa,
Semua menjadi mungkin.

Rabu, 07 Mei 2014

Bunga dan Lebah

Cinta itu seperti bunga,
Indah dan menyenangkan,
Memberi warna bagi dunia,
Namun berduri di tangkainya,
Tidak sembarang orang bisa memetiknya,

Tidak perlu mengeluhkan durinya,
Berjuanglah untuk memetiknya dengan lembut,
Jangan lihat sebagai bunga yang berduri,
Tapi lihatlah duri itu yang berujung bunga yang indah,

Dan kita harus menjadi seperti lebah,
Mengambil sari bunga tanpa merusaknya,
Karena cinta adalah menjaga,
Bukan merusak.

Sabtu, 03 Mei 2014

Jangan Pesimis

Namanya kopi ya pahit,
Pahit namun banyak yang suka,
Dengan harga jual yang tinggi,
Padahal pahit,

Mungkin rasa pahit itu tak begitu buruk,
Jika buruk tak mungkin ada,
Ada seribu manfaat di balik kepahitannya,
Jangan menggerutu soal kepahitannya,
Lebih baik nikmati saja,
Jika tetap tak mampu,
Buatlah ia menjadi manis,

Jangan terlalu mudah pesimis,
Terlalu mudah berhenti dan menyerah,
Jika tak mampu menikmati,
Buatlah perubahan lalu nikmati,

Seperti cinta,
Jangan terlalu memvonis buruk tentang cinta,
Tanpa cinta,
Tak mungkin ada manusia di muka bumi,
Adam dan Hawa bersatu karena cinta,
Orang tua kita bersatu juga karena cinta,
Dan kelak akan datang giliran kita,

Jangan berhenti percaya,
Jangan pernah berhenti untuk bersabar,
Ikhlaslah terhadap masa lalu,
Dan bersiaplah untuk masa depan.

Yang Paling Mengerti

Setiap orang pernah merasa,
Merasa bahwa tak ada seorang pun yang mengerti,
Tak seorang pun yang paham,
Tentang apa yang kita rasa,
Tentang apa yang kita pikir,
Tentang apa yang kita mau,
Dan semua tentang kita,

Tak adil memang berharap orang lain untuk mengerti,
Mengerti semua hal tentang diri kita,
Sedangkan mungkin kita saja tak mengerti mereka,
Ekspektasi yang terlalu tinggi memang,

Lalu jika orang lain tak mampu mengerti kita,
Siapa lagi yang bisa mengerti,
Ya siapa lagi selain kita sendiri,
Ya kita sendiri lah yang tahu semua hal tentang diri kita,
Kendalikan diri kita,
Jika benar lakukanlah,
Jika salah katakan itu salah,

Jangan pernah berpikir kita sendirian,
Kita tak pernah benar-benar sendiri,
Sujudlah di atas sajadah kita,
Maka kita akan tahu siapa yang selalu ada untuk kita,

Tapi percayalah,
Akan hadir seorang yang paling paham diantara yang lain,
Yang paling mengerti,
Yang paling tahu harus berbuat apa,
Hati ternyaman untuk menjalani hidup,
Bagian dari diri kita,
Bersatu lewat cinta,

Ya dia,
Cinta sejati,
Percayalah akan hadir,
Cepat atau lambat,
Atau bahkan ia ada di sekitar kita.

Jumat, 02 Mei 2014

Burung Kertas Merah Muda

Berbentuk burung namun tak terbang,
Seperti terbelenggu,
Hanya menggantung,
Dan menjadi hiasan,

Indah namun tak bernyawa,
Mungkin ia merasa,
Namun apalah daya,
Ia tak mungkin bisa bergerak tanpa bantuan hembusan angin,

Ia hanya sebuah burung kertas,
Burung kertas merah muda,
Yang tercipta dari lipatan demi lipatan,
Lipatan sebuah kertas merah muda,
Kertas merah muda berbentuk persegi,

Mungkin cinta seperti itu,
Cinta dapat dirasa,
Namun terkadang ia tak mampu berbuat banyak,
Dan akhirnya hanya melihat hati yang tersakiti,
Tersakiti perlahan,
Lalu membatu,

Membatu bak sebuah burung kertas,
Hanya mengikuti hembusan angin,
Sampai akhirnya berlabuh di sebuah sangkar yang tepat,
Menghabiskan waktu disana.

Mata dan Senyum Itu

Aku yang tak pernah benar-benar berhenti percaya,
Setidaknya ketika aku melihat mata itu,
Mata yang memancarkan sinar masa depan,
Mata yang seakan berkata untuk tidak pergi,

Sulit percaya lagi setelah semua yang terlewati,
Seperti meminta gelas kembali sedia kala setelah pecah,
Tapi berubah setelah aku melihat senyum itu,
Senyum yang memancarkan cinta,
Aku kembali percaya,
Percaya bahwa itu ada,
Iya itu,
Cinta...

Percayalah


Mungkin bintang tahu,
Tahu akan dirinya tak mungkin seterang mentari,
Tapi ia tetap di atas sana,
Menghiasi langit untuk sang malam,

Aku juga tahu,
Mungkin belum mampu memberikan apapun,
Tapi percayakan saja padaku,
Setidaknya aku berjanji,
Memberi bahu ternyaman untuk bersandar,
Menjadi pelindung di kala hujan,
Menjadi penyejuk di kala panas,

Karena cinta sesungguhnya sederhana,
Cinta soal kualitas yang kita bangun,
Karena mengeluhkan kuantitas hanya menghabiskan waktu,
Lebih baik kita bersyukur dan jalani berdua,

Kita bisa,
Sebisa hati ini bersabar untuk cinta,
Percayalah, CINTA....