Sabtu, 03 Mei 2014

Jangan Pesimis

Namanya kopi ya pahit,
Pahit namun banyak yang suka,
Dengan harga jual yang tinggi,
Padahal pahit,

Mungkin rasa pahit itu tak begitu buruk,
Jika buruk tak mungkin ada,
Ada seribu manfaat di balik kepahitannya,
Jangan menggerutu soal kepahitannya,
Lebih baik nikmati saja,
Jika tetap tak mampu,
Buatlah ia menjadi manis,

Jangan terlalu mudah pesimis,
Terlalu mudah berhenti dan menyerah,
Jika tak mampu menikmati,
Buatlah perubahan lalu nikmati,

Seperti cinta,
Jangan terlalu memvonis buruk tentang cinta,
Tanpa cinta,
Tak mungkin ada manusia di muka bumi,
Adam dan Hawa bersatu karena cinta,
Orang tua kita bersatu juga karena cinta,
Dan kelak akan datang giliran kita,

Jangan berhenti percaya,
Jangan pernah berhenti untuk bersabar,
Ikhlaslah terhadap masa lalu,
Dan bersiaplah untuk masa depan.

Yang Paling Mengerti

Setiap orang pernah merasa,
Merasa bahwa tak ada seorang pun yang mengerti,
Tak seorang pun yang paham,
Tentang apa yang kita rasa,
Tentang apa yang kita pikir,
Tentang apa yang kita mau,
Dan semua tentang kita,

Tak adil memang berharap orang lain untuk mengerti,
Mengerti semua hal tentang diri kita,
Sedangkan mungkin kita saja tak mengerti mereka,
Ekspektasi yang terlalu tinggi memang,

Lalu jika orang lain tak mampu mengerti kita,
Siapa lagi yang bisa mengerti,
Ya siapa lagi selain kita sendiri,
Ya kita sendiri lah yang tahu semua hal tentang diri kita,
Kendalikan diri kita,
Jika benar lakukanlah,
Jika salah katakan itu salah,

Jangan pernah berpikir kita sendirian,
Kita tak pernah benar-benar sendiri,
Sujudlah di atas sajadah kita,
Maka kita akan tahu siapa yang selalu ada untuk kita,

Tapi percayalah,
Akan hadir seorang yang paling paham diantara yang lain,
Yang paling mengerti,
Yang paling tahu harus berbuat apa,
Hati ternyaman untuk menjalani hidup,
Bagian dari diri kita,
Bersatu lewat cinta,

Ya dia,
Cinta sejati,
Percayalah akan hadir,
Cepat atau lambat,
Atau bahkan ia ada di sekitar kita.

Jumat, 02 Mei 2014

Burung Kertas Merah Muda

Berbentuk burung namun tak terbang,
Seperti terbelenggu,
Hanya menggantung,
Dan menjadi hiasan,

Indah namun tak bernyawa,
Mungkin ia merasa,
Namun apalah daya,
Ia tak mungkin bisa bergerak tanpa bantuan hembusan angin,

Ia hanya sebuah burung kertas,
Burung kertas merah muda,
Yang tercipta dari lipatan demi lipatan,
Lipatan sebuah kertas merah muda,
Kertas merah muda berbentuk persegi,

Mungkin cinta seperti itu,
Cinta dapat dirasa,
Namun terkadang ia tak mampu berbuat banyak,
Dan akhirnya hanya melihat hati yang tersakiti,
Tersakiti perlahan,
Lalu membatu,

Membatu bak sebuah burung kertas,
Hanya mengikuti hembusan angin,
Sampai akhirnya berlabuh di sebuah sangkar yang tepat,
Menghabiskan waktu disana.

Mata dan Senyum Itu

Aku yang tak pernah benar-benar berhenti percaya,
Setidaknya ketika aku melihat mata itu,
Mata yang memancarkan sinar masa depan,
Mata yang seakan berkata untuk tidak pergi,

Sulit percaya lagi setelah semua yang terlewati,
Seperti meminta gelas kembali sedia kala setelah pecah,
Tapi berubah setelah aku melihat senyum itu,
Senyum yang memancarkan cinta,
Aku kembali percaya,
Percaya bahwa itu ada,
Iya itu,
Cinta...

Percayalah


Mungkin bintang tahu,
Tahu akan dirinya tak mungkin seterang mentari,
Tapi ia tetap di atas sana,
Menghiasi langit untuk sang malam,

Aku juga tahu,
Mungkin belum mampu memberikan apapun,
Tapi percayakan saja padaku,
Setidaknya aku berjanji,
Memberi bahu ternyaman untuk bersandar,
Menjadi pelindung di kala hujan,
Menjadi penyejuk di kala panas,

Karena cinta sesungguhnya sederhana,
Cinta soal kualitas yang kita bangun,
Karena mengeluhkan kuantitas hanya menghabiskan waktu,
Lebih baik kita bersyukur dan jalani berdua,

Kita bisa,
Sebisa hati ini bersabar untuk cinta,
Percayalah, CINTA....

Minggu, 23 Maret 2014

Pilihan Itu Selalu Ada

Jarum jam yang terus berputar,
Hari yang berganti dari siang ke malam lalu siang lagi,
Tanggal yang terus bertambah digit angkanya,
Atau bahkan musim yang silih berganti,

Ini hidup,
Dinamis tanpa disadari,
Statis namun terus berubah,
Diam namun akan ditinggal sang waktu,

Hidup bukan soal memikirkan masa lalu,
Bukan juga untuk disesali,
Manusia selalu punya pilihan,
Termasuk untuk masa lalu,
Berlari atau belajar,

Bukan juga bagaimana kita gagal dahulu,
Bukan soal kita duduk diam di sudut masa lalu,
Hidup selalu soal masa depan,
Kita boleh gagal dahulu,
Tapi harus berhasil kelak,

Aku ingin terus belajar tentang masa lalu,
Bagaimana masa lalu mengajari ku tentang hidup,
Tentang bagaimana menyusun masa depan yang lebih baik,
Dan bagaimana menjaga cinta kelak,

Karena pilihan itu selalu ada,
Pilihan untuk lepas dan bahagia,
Atau terus terbelenggu,
Kuncinya adalah masa depan,
Mau menjadi seperti apa kita untuk masa depan.

Selasa, 28 Januari 2014

Lukisan Perasaan

Sebuah kanvas putih tepat di depan kita,
Akan kita lukis apapun ini terserah kita,
Dengan berbagai macam warna,
Itu juga terserah kita,

Dan telah kita tumpahkan segala perasaan,
Atau segala kejadian,
Ke atas kanvas ini,
Dengan segala macam warna,

Kita lukis berdua,
Dengan dua kuas berbeda,
Tercurah dalam cat warna,
Mewakili segala yang kita rasa,

Tak mungkin mampu aku mengganti kanvas ini,
Apalagi melukis dengan orang berbeda,
Hanya kamu lah yang memiliki gerakan tangan lembut,
Mengikuti arah kuas menuntunmu,
Hanya kamu.